KARANGANYAR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menunjukkan dampak nyatanya dalam pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui kisah inspiratif seorang santri yatim yang kini mampu membantu perekonomian keluarganya dari balik aktivitas dapur.
Di tengah hiruk-pikuk dapur MBG di Karanganyar, sosok Muhammad Zainuddin Alwi muncul sebagai representasi generasi muda yang berjuang keluar dari keterbatasan ekonomi melalui kerja keras dan ketekunan.
Program MBG tak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja baru yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan, terutama bagi kalangan muda di daerah.
Alwi, pemuda asal Bandung Sari, Purwodadi, sejak kecil telah akrab dengan kehidupan sederhana setelah ditinggal sang ayah saat usia dini.
Ia kemudian menempuh pendidikan di pondok pesantren dan kini mengabdikan diri sebagai pengajar di tempat yang sama, sembari terus berupaya mandiri untuk membantu keluarga.
“Latar belakang saya sendiri dari keluarga, bisa dibilang kurang mampu. Saya bekerja di SPPG Klodran, dan di sini saya tinggal di pondok pesantren,” bebernya mengisahkan.
Rutinitas harian Alwi tergolong padat karena ia mengajar santri selepas magrib hingga malam dan kembali mengajar usai subuh.
Di sela aktivitasnya, ia juga mengemban tanggung jawab mengantar para santri ke sekolah setiap pagi sebagai bagian dari pengabdiannya di pesantren.
Momentum penting dalam hidupnya datang pada awal 2025 saat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Klodran mulai beroperasi.
Kesempatan tersebut dimanfaatkannya dengan meminta izin kepada pengasuh pesantren untuk bergabung sebagai bagian dari tim dapur MBG.
“Di sini saya berperan di divisi persiapan. Persiapan itu tugasnya menyiapkan barang yang mau dimasak oleh pengolahan,” ujarnya.
Dalam perannya di divisi persiapan, Alwi terlibat langsung dalam tahap awal pengolahan makanan, mulai dari menyiapkan bahan mentah hingga membantu proses memasak sederhana.
Pengalaman tersebut menjadi tantangan baru baginya karena sebelumnya ia tidak memiliki latar belakang di bidang kuliner.
“Terus kayak awal pertama saya di sini masih kagok. Masih kurang lancar kalau potong-potong. Sekarang ya alhamdulillah udah agak lancar,” aku Alwi.
Seiring waktu, keterampilan Alwi terus berkembang dan memberinya bekal baru yang berpotensi menjadi peluang usaha di masa depan.
Bagi Alwi, bekerja di dapur MBG bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan juga proses belajar yang membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
“Kalau hasil kerja dari sini saya buat nabung untuk nyambut masa depan. Terus sebagian untuk ibu saya, terus adik-adik saya,” kata Alwi.
Selain aspek ekonomi, lingkungan kerja di dapur MBG juga menghadirkan suasana kekeluargaan yang memperkuat semangat kebersamaan.
“Kalau senangnya di sini itu kayak kekeluargaan. Jadi semua merangkul jadi satu. Terus rukun gitu,” ungkapnya.
Ke depan, Alwi menyimpan harapan besar untuk dapat mengembangkan usaha di sektor kuliner sebagai lanjutan dari pengalaman yang ia peroleh saat ini.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas program pemerintah yang telah memberinya kesempatan untuk tumbuh dan mandiri secara finansial.
“Terima kasih banyak Pak Prabowo sehingga saya bisa mempunyai penghasilan sendiri. Sehingga bisa meringankan beban orang tua,” ujar Alwi.
Kisah perjuangan Alwi menjadi bukti konkret bahwa Program MBG mampu menciptakan efek berantai berupa peningkatan keterampilan, pembukaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi keluarga di tingkat akar rumput.***