PAPUA PEGUNUNGAN – Proses identifikasi korban penyerangan KKB di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, terus membuahkan hasil. Pada Rabu (16/4/2025), satu jenazah kembali teridentifikasi, melengkapi daftar 16 korban yang kini telah dikenali identitasnya.
Tragedi berdarah yang terjadi pada 6–8 April 2025 ini menjadi sorotan publik karena kebrutalan aksi KKB terhadap para pendulang emas tradisional.
Proses Evakuasi Penuh Tantangan
Tim gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz 2025, Polres Yahukimo, dan TNI bekerja keras mengevakuasi jenazah dari lokasi terpencil di wilayah pendulangan emas. Jenazah terbaru yang teridentifikasi adalah Ferdina Buma, pria kelahiran Nabire, Papua Tengah, pada 30 April 1995.
“Jenazah ditemukan di lokasi Muara Kum, dan hari ini berhasil dievakuasi serta diidentifikasi sebagai Ferdina Buma,” kata Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Jayapura, AKBP Rommy Sebastian Rabu sore.
Evakuasi dilakukan di tengah medan berat dan cuaca ekstrem. Dari 16 jenazah yang ditemukan, sebagian besar telah diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan di Dekai, ibu kota Yahukimo, dengan pertimbangan medis.
“Pemakaman 16 jenazah korban KKB di Dekai merupakan pertimbangan medis demi mencegah risiko penyebaran penyakit dari mayat yang telah membusuk,” jelasnya
Tim Medis RSUD Dekai.
Proses identifikasi dilakukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri melalui pencocokan data antemortem dan postmortem. Hingga kini, aparat masih menyelidiki kemungkinan adanya korban lain.
Daftar Lengkap 16 Korban Penyerangan KKB
- Wawan Tangahu – Dusun III, Kab. Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara (Area 22, Yahukimo)
- Suardi Laode alias Kaswadi – Dusun III, Kab. Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara (Area 22, Yahukimo)
- Stenli Humena – Kampung Kalama Darat, Kab. Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Muara Kum)
- Yuda Lesmana – Kos Jalan Paradiso, Dekai (Camp Muradala, Kampung Bingki)
- Riki Rahmat – Desa Ranomolua, Kec. Besulutu, Kab. Konawe, Sulawesi Tenggara (Camp Muradala)
- Muhammad Arif – Kos Pemukiman Jalur II, Dekai (Camp Muradala)
- Safaruddin – Kos Pemukiman Jalur II, Dekai (Camp Muradala)
- Abdur Raffi Batu Bara – Kos Pemukiman Jalur II, Dekai (Camp Muradala)
- Stefanus Gisbertus – Desa Tala, Kab. Seram Barat, Maluku (Tanjung Pamali)
- Zamroni – Dukuh Dulak, Desa Gantungan, Kab. Tegal, Jawa Tengah (Tanjung Pamali)
- Ariston Kamma – Tantanan, Tallunglipu, Sulawesi Selatan (Kab. Pegunungan Bintang)
- Rusli – Desa Buti, Kab. Merauke, Papua (Area 22, Yahukimo)
- Sahar – Pasare Apua, Kec. Lantari Jaya, Kab. Bombana, Sulawesi Tenggara (Area 33, Yahukimo)
- Saharudin – Toddolimae, Kec. Tompobulu, Kab. Maros, Sulawesi Selatan (Kepala Air Mumok)
- Haidil Isdar – Desa Boddie, Kec. Mandalle, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan (Tanjung Pamali)
- Ferdina Buma – Kampung Rumusu, Nabire, Papua Tengah (Muara Kum)
Penegakan Hukum Terus Dikejar
Kepala Humas Satgas Damai Cartenz, Kombes Yusuf Sutejo, menegaskan bahwa aparat tidak hanya fokus pada evakuasi dan identifikasi, tetapi juga mengejar pelaku.
“Kami tidak akan berhenti bekerja semaksimal mungkin. Para pelaku akan terus kami kejar dan ditindak tegas sesuai hukum. Aksi keji terhadap warga sipil ini tidak bisa ditoleransi,” ujar Brigjen Faizal Ramadhani, Kepala Operasi Damai Cartenz.
Cerita di Balik Tragedi
Mayoritas korban berasal dari luar Papua, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Mereka adalah pendulang emas yang merantau untuk mencari nafkah di daerah terpencil Yahukimo.
Namun, KKB yang mengatasnamakan Kodap XVI Yahukimo dan Kodap III Ndugama menuduh para pendulang sebagai agen intelijen Indonesia—tudingan yang kerap digunakan untuk membenarkan aksi teror mereka.
Tragedi ini juga menyisakan kisah penyelamatan dramatis. Sepasang suami istri, Daniel Nabyal dan Makdalena Olivia Masela, berhasil diselamatkan setelah disandera selama dua hari. Mereka dievakuasi menggunakan helikopter dan kini menjalani pendampingan trauma healing.
Harapan Akan Keadilan
Tragedi Yahukimo menjadi pengingat akan kompleksitas konflik di Papua. Dengan 16 jenazah telah teridentifikasi, fokus kini beralih pada penegakan hukum dan pencegahan agar tragedi serupa tak terulang.
Satgas Damai Cartenz menyatakan komitmennya untuk terus bekerja hingga keadilan bagi para korban dan keluarga benar-benar ditegakkan.
