Bos tim Mercedes F1, Toto Wolff, melontarkan gurauan menggelitik usai mengamati aksi pebalap mudanya, Andrea Kimi Antonelli, pada gelaran Grand Prix Singapura. Wolff berseloroh ingin menaruh “bantal di bawah bokong” Antonelli agar sang pebalap bisa melihat garis pembatas trek dengan lebih jelas.
Kelakar tersebut terlontar setelah Antonelli kedapatan melanggar batas lintasan (track limits) sebanyak empat kali sepanjang balapan di Sirkuit Marina Bay. Meski demikian, pebalap berusia 20 tahun asal Italia itu berhasil finis di posisi ketiga dan makin mengukuhkan posisinya di puncak klasemen menuju gelar juara dunia F1 pertamanya.
Antonelli beruntung lolos dari sanksi penalti waktu 5 detik pada pelanggaran keempatnya. Tim stewards menilai pelanggaran di Tikungan 7 tersebut terjadi akibat kendala sistem pengereman pada mobil Mercedes W17 miliknya, serta tidak memberikan keuntungan durasi waktu (gained no advantage).
Candaan Bos Mercedes dan Kematangan Sang Calon Juara
Melalui radio tim sesaat setelah melintasi garis finis, Wolff tak bisa menahan diri untuk tidak ‘menyentil’ pebalap mudanya tersebut dengan nada bercanda.
“Kimi, balapan yang hebat. Kerja bagus. Tapi mungkin kita perlu menaruh bantal kecil di bawah bokongmu supaya kamu duduk lebih tinggi dan bisa melihat track limits. Tapi bagaimanapun, ini hasil yang sangat bagus,” ujar Wolff lewat komunikasi radio.
Saat ditemui awak media usai balapan, Wolff kembali mengulangi leluconnya sembari memuji ketenangan dan kedewasaan Antonelli dalam mengendalikan situasi sulit.
Wolff berseloroh bakal mengambil bantal dari kamar hotel untuk ditaruh di kokpit Antonelli agar jarak pandangnya ke lintasan lebih tinggi.
Pelanggaran track limits sebanyak tiga kali di awal balapan sempat membuat dinding pit Mercedes berada dalam tekanan tinggi.
“Setengah perjalanan balapan kami sudah kena tiga strikes (peringatan), itu tentu membikin stres. Tapi itu juga membuktikan betapa dia terus menekan hingga batas maksimal. Cara dia mengemudi sangat matang. Dia tahu kapan harus tetap tenang dan memastikan mobil selamat sampai finis,” tambah Wolff.
Menatap Rekor Juara Dunia Termuda F1
Hasil impresif di Singapura membawa Antonelli semakin dekat dengan sejarah besar. Ia berpeluang mengunci gelar juara dunia F1 pertamanya sekaligus menjadi juara dunia termuda sepanjang sejarah F1 pada seri berikutnya di GP Amerika Serikat, Austin.
Meski demikian, Wolff enggan terburu-buru dan meminta seluruh tim tetap fokus mengamankan poin di sisa musim.
“Target utama kami adalah terus mencetak poin dan tidak kehilangan momentum dari pesaing. Apakah gelar itu akan dikunci di Meksiko, Brasil, atau seri setelahnya, kita lihat saja nanti. Kami memandangnya sebagai perjalanan enam balapan tersisa yang harus dituntaskan dengan sempurna,” pungkas Wolff.