Setelah membara selama beberapa hari dan menghanguskan ratusan hektare vegetasi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Gunung Sumbing akhirnya dinyatakan padam total. Kebakaran masif ini mencatatkan total kerusakan lahan mencapai 974 hektare yang tersebar di tiga wilayah kabupaten di Jawa Tengah.
Administratur (Adm) Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, mengonfirmasi bahwa seluruh titik api di wilayah Wonosobo, Temanggung, dan Magelang kini sudah terkendali.
“Alhamdulillah wilayah Wonosobo, Temanggung, dan Magelang sudah padam. Namun kami bersama pengelola basecamp dan para relawan tetap memantau secara berkala dan melakukan penyisiran di lapangan,” ujar Dimyati.
Batal Water Bombing Akibat Cuaca Buruk
Sebelum api benar-benar padam, titik api terakhir sempat terdeteksi di kawasan Glapansari, Kabupaten Temanggung. Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membeberkan bahwa upaya pemadaman udara (water bombing) via helikopter sempat dikerahkan pada Sabtu pagi.
Namun, kendala cuaca ekstrem dan kabut tebal di sekitar puncak gunung memaksa armada helikopter putar balik.
“Helikopter yang hendak melakukan water bombing sempat melintas di Gunung Sumbing. Hanya saja kondisi cuaca tidak mendukung, sehingga akhirnya kembali ke pangkalan,” terang Bergas.
Beruntung, kerja keras tim darat gabungan serta perubahan kondisi cuaca di lokasi berhasil memadamkan sisa-sisa kobaran api. Asper Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Magelang, Yulianto, mengonfirmasi bahwa wilayah Magelang telah terbebas dari api sejak Jumat sore.
“Alhamdulillah berkah Gusti Allah SWT, wilayah Kabupaten Magelang tepatnya di Kecamatan Kajoran dan Kaliangkrik sudah padam sepenuhnya sejak Jumat pukul 14.00 WIB,” ungkap Yulianto.
Meski seluruh titik api utama sudah padam, tim KPH Kedu Utara bersama masyarakat pecinta alam dan relawan basecamp pendakian masih disiagakan di jalur-jalur rawan guna memastikan tidak ada bara tersembunyi (smoldering) yang berpotensi memicu kebakaran susulan.