Tim Ocean Climate Research Group (OCRG) dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (Prima) BRIN mengerahkan teknologi pemodelan transpor partikel Euler-Lagrangian guna memetakan pergerakan delapan korban hanyut di perairan Selat Sunda. Langkah ilmiah ini ditujukan untuk memberikan informasi data pendukung bagi pencarian delapan orang—termasuk lima jurnalis—yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 7 September 2026 lalu.
Melalui simulasi komputerik yang melepas ribuan partikel hipotetik, tim riset berhasil menyusun peta probabilitas wilayah penyebaran korban berdasarkan dinamika kompleks arus laut, gelombang, dan dorongan angin.
Ketua Tim Peneliti Prima BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjelaskan bahwa kecepatan hanyut objek di permukaan laut sangat dipengaruhi oleh gelombang permukaan yang menyumbang sekitar 40 persen dari total kecepatan arus.
“Kondisi dinamika arus dan gelombang sangat vital dalam memprediksi arah serta kecepatan hanyut. Pemodelan kami memperhitungkan variabel berat badan korban 60–70 kg, penggunaan pelampung, hingga efek leeway atau penyimpangan akibat terpaan angin pada tubuh yang menyembul di atas air,” ujar Widodo dalam keterangan resminya, Minggu (20/9/2026).
Sensitivitas Titik Awal: Beda 30 Km, Hasilnya Melenceng Ratusan Km
Pemodelan BRIN menggarisbawahi krusialnya ketepatan data koordinat awal saat kapal hilang kontak. Tim menemukan bahwa selisih koordinat awal sebesar 30 kilometer dapat menghasilkan estimasi posisi akhir yang sangat ekstrem perbedaannya.
-
Skenario A: Partikel bergerak mengarah ke barat menyusuri pesisir Lampung.
-
Skenario B: Partikel terbawa arus pantai Samudra Hindia dan tersapu jauh ke arah barat laut.
“Ketidakpastian lokasi awal sejauh 30 kilometer dapat berkembang menjadi selisih posisi akhir antara 221 hingga 292 kilometer. Karena itu, kami menjalankan delapan skenario kombinasi untuk menghasilkan peta probabilitas ensembel,” jelas Widodo.
Berdasarkan gabungan skenario tersebut, cakupan area dengan tingkat kemunculan korban sebesar 95 persen melonjak drastis dari 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14.
Alat Bantu Perencanaan, Bukan Penentu Mutlak
Meskipun menyajikan visualisasi matematis yang presisi, tim OCRG BRIN menegaskan bahwa pemodelan ini berfungsi sebagai alat bantu perencanaan navigasi pencarian SAR, bukan penentu pasti keberadaan korban. Model ini masih memiliki keterbatasan, seperti penggunaan proyeksi angin dari tinggi gelombang dan asumsi korban terus mengapung di permukaan.
“Untuk analisis yang lebih sempurna, seluruh parameter fisik—mulai dari citra satelit, struktur angin, kelaikan kapal, hingga stabilitas muatan—harus dikumpulkan secara utuh,” tambah Widodo.
Riset ini mengutarakan pentingnya pemanfaatan pemodelan laut dalam mendukung kesiapsiagaan tanggap darurat di perairan Indonesia. BRIN mendorong pengembangan protokol terpadu, termasuk penggunaan pelampung berpenjejak satelit (satellite-tracked drifter) serta pencatatan koordinat insiden yang tervalidasi secara seragam di masa depan.