JAKARTA – Tabungan masyarakat Indonesia tercatat semakin menyusut, sementara belanja rumah tangga justru semakin bergantung pada pembiayaan utang. Tim ekonom Bank Mandiri menilai kondisi ini menjadi alarm bagi perekonomian nasional dan mendesak agar peningkatan penghasilan masyarakat menjadi prioritas kebijakan ke depan.
Dalam tinjauan harian ekonomi dan pasar edisi Juli 2026, Kantor Kepala Ekonom (Office of Chief Economist) Bank Mandiri menyoroti pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih banyak ditopang oleh pinjaman ketimbang pendapatan asli. Fenomena ini muncul di tengah tren tabungan yang terus melemah.
“Kebijakan untuk menjaga pendapatan disposabel, menahan tekanan biaya hidup, serta mendorong penciptaan lapangan kerja menjadi penting agar momentum konsumsi tetap terjaga lebih sehat,” demikian bunyi laporan tersebut, dikutip Selasa (28/7/2026).
Tabungan Terkontraksi, Pinjaman Melonjak Tajam
Berdasarkan data Mandiri Saving Index (MSI), indeks tabungan masyarakat pada Juni 2026 berada di level 84,8, atau terkontraksi 5,7% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini mengonfirmasi kecenderungan pelemahan daya simpan masyarakat yang berlangsung belakangan ini.
Di sisi lain, Mandiri Spending Index (MSI) untuk belanja masyarakat masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,9% yoy ke level 123. Namun, yang menjadi sorotan utama ekonom Bank Mandiri adalah lonjakan indeks pinjaman—yang mencakup pinjaman online (P2P lending), kartu kredit, hingga paylater dari perusahaan pembiayaan non-bank—yang melesat hingga 24,6% yoy ke posisi 157,7.
“Hal ini menunjukkan belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah. Bersamaan dengan itu penggunaan pembiayaan meningkat,” tulis tim ekonom Bank Mandiri dalam laporan tersebut.
Dengan kata lain, geliat belanja yang masih terlihat positif pada Juni 2026 ternyata tidak lagi murni ditopang oleh kekuatan pendapatan, melainkan mulai bergeser ke pembiayaan berbasis utang.
Outstanding Pembiayaan Konsumtif Tembus Rp160,7 Triliun
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia yang dikutip dalam laporan itu menunjukkan total outstanding gabungan pinjaman online, kartu kredit, dan paylater non-bank telah mencapai Rp160,7 triliun per Mei 2026.
Rinciannya, outstanding pinjaman online menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp103,7 triliun atau sekitar 65% dari total pembiayaan tersebut. Disusul oleh outstanding kartu kredit sebesar Rp43,8 triliun (27%), dan paylater dari perusahaan pembiayaan senilai Rp13,2 triliun (8%).
Dari sisi pertumbuhan, paylater mencatatkan kenaikan paling agresif, yakni 53,6% yoy, diikuti P2P lending yang tumbuh 25,7% yoy, serta kartu kredit dengan pertumbuhan 15,6% yoy.
Pinjaman untuk Kebutuhan Konsumtif Kian Mendominasi
Laporan itu juga mengungkap pergeseran signifikan pada tujuan penggunaan pinjaman online. Berdasarkan data OJK, porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif melonjak menjadi 86% pada April 2026. Angka ini naik dibandingkan 78% pada April 2025, dan hanya 68% pada April 2024.
Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif atau usaha terus tergerus hingga tersisa 14% saja pada periode yang sama.
“Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas,” tulis tim ekonom Bank Mandiri.
Temuan ini mengindikasikan bahwa lonjakan pembiayaan bukan didorong oleh ekspansi pelaku usaha, melainkan oleh kebutuhan rumah tangga untuk menopang konsumsi sehari-hari.
Tren Belanja Mulai Melambat di Awal Kuartal III
Meski Mandiri Spending Index pada Juni 2026 masih tumbuh 5,9%, tim ekonom Bank Mandiri mencatat mulai muncul tanda-tanda pelemahan momentum belanja masyarakat. Data MSI menunjukkan rata-rata pertumbuhan belanja pada awal kuartal III-2027 tercatat sebesar 5,8% yoy, lebih rendah dibandingkan kuartal II yang mencapai 6,1% dan kuartal I yang berada di level 6,4%.
Perlambatan bertahap ini terjadi bersamaan dengan pelemahan tabungan dan meningkatnya porsi pembiayaan konsumtif, yang mengindikasikan bahwa sebagian konsumsi masyarakat kini semakin bergantung pada leverage atau utang rumah tangga, bukan lagi murni bersumber dari akumulasi pendapatan.
Ekonom Dorong Prioritas Kenaikan Penghasilan Masyarakat
Menyikapi rangkaian temuan tersebut, tim ekonom Bank Mandiri menegaskan pentingnya langkah kebijakan yang berorientasi pada penguatan sisi pendapatan masyarakat, bukan hanya menjaga level konsumsi semata.
“Oleh karena itu, penguatan tingkat penghasilan perlu menjadi prioritas agar konsumsi ke depan lebih ditopang oleh kapasitas keuangan rumah tangga yang lebih kuat,” demikian rekomendasi yang tertuang dalam laporan tersebut.
Dengan tren tabungan yang terus menipis dan ketergantungan pada pembiayaan yang kian membesar, penguatan pendapatan disposabel, pengendalian biaya hidup, serta perluasan lapangan kerja dinilai menjadi kunci agar konsumsi masyarakat Indonesia dapat tumbuh secara lebih sehat dan berkelanjutan ke depan.