JAKARTA – Situasi keamanan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah serangkaian insiden militer menguji stabilitas gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Militer Kuwait melaporkan telah merespons serangan drone yang memasuki wilayah udaranya pada Minggu dini hari.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Brigjen Saud Abdulaziz Al Otaibi, menyatakan bahwa pihaknya bertindak cepat sesuai prosedur pertahanan yang berlaku.
“Pasukan kami merespons ancaman tersebut sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,” ujar Al Otaibi dalam pernyataan resmi dikutip dari AP, Minggu (10/5/2026).
Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan signifikan akibat insiden tersebut.
Di waktu hampir bersamaan, sebuah kapal kargo dilaporkan terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal di perairan dekat Qatar.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengungkapkan bahwa serangan tersebut terjadi sekitar 23 mil laut dari Doha dan sempat memicu kebakaran kecil di kapal.
Api berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban, namun identitas kapal serta pelaku serangan masih belum diketahui.
Rangkaian insiden ini terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata yang diberlakukan sejak konflik militer antara Iran dan AS mereda beberapa waktu lalu.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata masih berlaku, meski berbagai pelanggaran terus terjadi di lapangan.
Ketegangan meningkat setelah Iran membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Sebagai respons, Washington menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan aktivitas ekonomi negara tersebut.
Negosiasi antara kedua pihak masih berlangsung, dengan fokus utama pada pembukaan kembali jalur pelayaran dan pembatasan program nuklir Iran.
Salah satu isu paling krusial adalah keberadaan lebih dari 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen oleh Iran.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut tingkat pengayaan tersebut hanya selangkah lagi menuju level senjata nuklir.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, sebelumnya mengungkapkan bahwa sebagian besar uranium tersebut disimpan di fasilitas nuklir Isfahan.
Fasilitas tersebut diketahui pernah menjadi target serangan udara gabungan AS dan Israel dalam konflik sebelumnya.
Sementara itu, militer Iran menyatakan berada dalam kesiapsiagaan penuh untuk melindungi fasilitas nuklirnya dari potensi ancaman eksternal.
“Kami mengantisipasi kemungkinan upaya infiltrasi atau operasi udara untuk merebut material nuklir kami,” kata Brigjen Akrami Nia kepada media pemerintah Iran.
Di sisi lain, konflik juga merambah ke jalur laut dengan meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk Persia dalam sepekan terakhir.
Amerika Serikat bahkan dilaporkan menyerang dua tanker minyak Iran yang dituding mencoba menembus blokade.
Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kapal Iran akan dibalas dengan serangan besar terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan ancaman untuk melanjutkan serangan militer skala penuh jika Iran menolak kesepakatan baru.
Sejak konflik pecah akibat serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu, Iran diketahui membatasi akses Selat Hormuz yang berdampak pada lonjakan harga energi global.
Ketidakpastian di kawasan ini terus mengguncang pasar internasional dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.***



