Aktivitas seismik di perairan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus berlangsung pascagempa bumi utama bermagnitudo (M) 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat akumulasi gempa susulan kini telah melampaui angka 3.002 kali hingga Rabu (19/8/2026) pukul 15.00 WITA.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, membeberkan bahwa variasi magnitudo gempa susulan berkisar antara M 1.1 hingga M 6.2.
“Total gempa bumi susulan tercatat 3.002 kali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 kejadian bermagnitudo di atas M 5.0 dan 88 getaran di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Arief, Rabu sore.
Pola Peluruhan Mulai Tampak, Berlangsung Hingga 4 Minggu
Meskipun frekuensi gempa susulan terbilang fantastis—melonjak dari 2.768 kali pada Rabu pagi menjadi 3.002 kali di sore hari—Arief menyebutkan bahwa grafik aktivitas gempa mulai menunjukkan tren peluruhan atau penurunan secara bertahap.
BMKG memproyeksikan pelepasan energi di patahan tektonik tersebut akan terus berlanjut hingga beberapa pekan ke depan sebelum benar-benar stabil.
“Grafik peluruhan sudah mulai menampakkan pola penurunan. Kami memperkirakan aktivitas gempa susulan ini masih akan berlangsung sekitar 3 hingga 4 minggu ke depan,” jelasnya.
Sebagian besar episenter gempa susulan terkonsentrasi di Laut Flores, sebelah utara Pulau Flores. Lokasi ini berada di sekitar pusat gempa utama (30 km timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 km) yang dipicu oleh aktivitas tektonik Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik.
Tanggap Darurat 14 Hari dan Imbauan Kewaspadaan
Buntut dari bencana geologi ini, Penjabat/Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena secara resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026 melalui Keputusan Gubernur Nomor 305/KEP/HK/2026.
BMKG mengimbau masyarakat di seluruh wilayah terdampak Flores untuk tetap tenang namun ekstra waspada. Warga diminta tidak memasuki atau menempati bangunan yang telah mengalami retakan struktural guna menghindari risiko runtuh akibat guncangan susulan.
“Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi dari kanal dan media sosial resmi BMKG serta tidak terpengaruh oleh isu-isu spekulatif atau hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” imbau BMKG.




