BANDUNG – Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar, mengungkapkan bahwa sejumlah pemain mengalami trauma psikologis setelah insiden yang terjadi selama konvoi juara Super League 2025/2026. Akibatnya, rencana perayaan lanjutan di kediamannya di Sumedang terpaksa dibatalkan.
Persib Bandung baru saja mencatatkan sejarah dengan meraih gelar juara liga untuk ketiga kalinya secara berturut-turut (hattrick). Namun, euforia konvoi juara pada Minggu (24/5/2026) di Bandung justru diwarnai sejumlah kejadian tidak menyenangkan yang membuat para pemain ketakutan.
Insiden Konvoi yang Mengganggu
Dalam kerumunan bobotoh yang sangat antusias, beberapa pemain Persib menjadi korban. Frans Putros kehilangan ponsel, Federico Barba terkena pukulan bambu bendera di kepala, dan kacamata Andrew Jung hilang dalam keramaian. Kejadian tersebut meninggalkan dampak mendalam pada mental para pemain.
Umuh Muchtar menjelaskan bahwa situasi tersebut membuat skuad Persib trauma dan memilih untuk tidak melanjutkan acara.
“Tidak sesuai rencana karena pemain tadinya habis makan mau ke sini langsung ke lapangan, tapi pemain kemarin trauma kejadian di Bandung ada yang hilang HP,” ungkap Umuh Muchtar.
Ia juga menambahkan adanya luka fisik yang dialami pemain akibat kerumunan. “Ada juga tangan ini ada kecakar juga banyak luka begini ya sama ibu-ibu atau perempuan sampai berdarah lah ada kena cakaran. Jadi mereka ketakutan,” ujarnya.
Perayaan di Sumedang Batal, Warga Kecewa
Rencana perayaan lanjutan di rumah Umuh Muchtar di Desa Margajaya, Kabupaten Sumedang, yang sudah ditunggu warga setempat akhirnya dibatalkan. Para pemain memilih kembali ke tempat masing-masing demi menghindari trauma yang lebih berat.
“Saya kepada bobotoh minta maaf ini tidak diperkirakan yah saya di luar perkiraan para pemain tapi masa saya tahan takutnya mereka lebih trauma,” kata Umuh Muchtar meminta pengertian publik.
Sorotan atas Antusiasme Suporter
Kejadian ini menjadi perhatian karena Persib baru saja meraih prestasi gemilang dengan hattrick gelar juara liga. Seharusnya momen ini menjadi pesta kebahagiaan, namun justru memunculkan kekhawatiran soal keselamatan pemain di tengah euforia suporter.
Kasus ini kembali menyoroti tantangan klasik sepak bola Indonesia, yaitu bagaimana mengelola antusiasme suporter yang tinggi agar tidak membahayakan keselamatan para pemain dan tim.
Umuh Muchtar berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar perayaan juara di masa mendatang dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan menyenangkan bagi semua.