TEHERAN, IRAN – Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai menjalankan operasi besar untuk mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terjebak di kawasan Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan penghentian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini menjadi sinyal awal pulihnya aktivitas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
- Dampak Perang Lumpuhkan Jalur Perdagangan Strategis
- Evakuasi Dilakukan Bertahap untuk Hindari Risiko Tabrakan
- Eropa Kerahkan Dukungan untuk Membuka Jalur Laut
- Sinyal Positif dari Pembicaraan Iran dan Oman
- AS Tegaskan Iran Tak Boleh Pungut Tarif di Selat Hormuz
- Pemulihan Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi Global
Operasi kemanusiaan tersebut dilakukan setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman yang membuka jalan bagi berakhirnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik yang berlangsung selama beberapa bulan itu sempat mengguncang rantai pasok global serta memicu kekhawatiran terhadap keamanan distribusi minyak dunia.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menegaskan bahwa operasi evakuasi akan dilaksanakan melalui koordinasi intensif dengan seluruh pihak yang berkepentingan di kawasan.
“Operasi tersebut akan dilakukan dalam kerja sama erat dengan Iran, Oman, semua negara pesisir lainnya di kawasan itu, Amerika Serikat, dan industri maritim,” kata Dominguez, Selasa.
Menurut dia, berbagai jaminan keamanan telah diperoleh sebelum operasi dimulai guna memastikan keselamatan pelaut maupun kapal yang masih berada di sekitar jalur pelayaran tersebut.
“Kami telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman untuk mendukung operasi ini,” ujarnya.
Dampak Perang Lumpuhkan Jalur Perdagangan Strategis
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Setelah konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu, Teheran secara efektif menutup akses pelayaran di kawasan tersebut.
Akibatnya, ratusan kapal komersial dan kapal tanker tertahan di kedua sisi selat. Ribuan awak kapal dari berbagai negara pun terjebak di laut tanpa kepastian kapan jalur pelayaran dapat kembali beroperasi normal.
Penutupan Selat Hormuz sempat memicu lonjakan kekhawatiran di pasar energi global karena hampir seperlima perdagangan minyak dunia melintasi kawasan itu setiap harinya. Gangguan distribusi yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan memperburuk tekanan ekonomi di berbagai negara.
Namun situasi mulai menunjukkan perbaikan setelah kesepakatan damai dicapai. Aktivitas pelayaran yang sempat nyaris lumpuh kini perlahan kembali bergerak.
Data lembaga intelijen pelayaran Kpler menunjukkan sedikitnya 36 kapal komersial berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin lalu. Angka tersebut menjadi volume lalu lintas tertinggi sejak perang dimulai dan dianggap sebagai indikator awal pemulihan perdagangan internasional di kawasan.
Evakuasi Dilakukan Bertahap untuk Hindari Risiko Tabrakan
Pemerintah Oman yang berperan sebagai mediator utama dalam berbagai perundingan regional menyatakan bahwa proses evakuasi akan dilakukan secara bertahap sesuai rencana yang telah disusun IMO selama beberapa bulan terakhir.
Otoritas pertahanan Oman menjelaskan bahwa kondisi lalu lintas kapal yang masih padat dan situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil membuat proses pemulihan harus dilakukan secara hati-hati.
“Mengingat tingginya risiko tabrakan dalam lingkungan saat ini, evakuasi lalu lintas kapal secara bertahap dan terkontrol diperlukan,” ujar perwakilan Kementerian Pertahanan Oman.
Pendekatan bertahap tersebut dinilai penting untuk mencegah insiden baru yang dapat mengganggu proses normalisasi pelayaran di kawasan.
Selain evakuasi pelaut, otoritas maritim internasional juga tengah mengatur prioritas pergerakan kapal-kapal yang telah lama tertahan agar arus perdagangan dapat kembali berjalan secara aman dan efisien.
Eropa Kerahkan Dukungan untuk Membuka Jalur Laut
Di tengah upaya normalisasi tersebut, sejumlah negara Eropa mulai meningkatkan keterlibatan mereka dalam pengamanan jalur pelayaran internasional.
Denmark pada Selasa mengumumkan akan bergabung dengan misi keamanan maritim internasional yang sebelumnya dibentuk oleh Prancis dan Inggris. Misi tersebut bertujuan memastikan kebebasan navigasi serta membantu mempercepat pembukaan kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
Keterlibatan negara-negara Eropa mencerminkan besarnya kepentingan global terhadap stabilitas kawasan Teluk. Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada negara-negara Timur Tengah, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap pasokan energi dan aktivitas perdagangan internasional.
Sinyal Positif dari Pembicaraan Iran dan Oman
Dari kawasan Selat Hormuz, perkembangan diplomatik juga menunjukkan kemajuan. Pembicaraan mengenai mekanisme pembukaan kembali jalur perdagangan disebut mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.
Jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan bahwa Iran dan Oman telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menunjukkan adanya kesepahaman untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan melalui selat tersebut.
“Hari ini, kami mendapat pernyataan bersama dari pihak Oman dan Iran yang mengatakan mereka sedang membicarakan mekanisme untuk membuka kembali perdagangan melalui Selat Hormuz. Ini adalah indikasi positif,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses pemulihan penuh masih membutuhkan waktu.
“Namun, masih perlu dilihat berapa lama waktu yang dibutuhkan agar selat tersebut dibuka kembali, dan sampai saat itu, kita melihat ratusan kapal terdampar di kedua sisi Hormuz,” tambahnya.
AS Tegaskan Iran Tak Boleh Pungut Tarif di Selat Hormuz
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio yang melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab menegaskan posisi Washington terkait masa depan pengelolaan Selat Hormuz.
Rubio menyatakan bahwa Iran tidak akan diperbolehkan mengenakan biaya ataupun pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian yang sedang dibahas.
“Ini adalah jalur air internasional. Tidak ada negara yang diizinkan memungut biaya atau pungutan di jalur air internasional,” kata Rubio.
Ia juga meyakini negara-negara di kawasan memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menjaga kebebasan navigasi internasional.
Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah pejabat Iran sebelumnya mengisyaratkan keinginan untuk menerapkan pengaturan baru pascakonflik. Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali” ke status quo sebelum perang, tegas Ghalibaf.
Meski terdapat perbedaan pandangan mengenai pengelolaan jalur strategis tersebut, kedua pihak telah sepakat membangun mekanisme komunikasi permanen guna menjaga stabilitas dan mencegah terulangnya eskalasi militer di masa mendatang.
Pemulihan Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi Global
Pembukaan kembali Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia karena akan menentukan kecepatan pemulihan perdagangan energi global setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik.
Evakuasi lebih dari 11.000 pelaut oleh IMO menjadi langkah awal yang krusial untuk mengembalikan kepercayaan pelaku industri pelayaran dan pasar energi internasional. Jika proses normalisasi berjalan lancar, arus perdagangan minyak dan barang strategis diperkirakan dapat kembali meningkat dalam beberapa pekan mendatang.
Bagi ekonomi global, stabilitas Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan keamanan maritim, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan energi, menekan volatilitas harga minyak, serta mencegah gangguan baru terhadap rantai pasok internasional.



