Kisah memilukan sepasang induk dan anak orang utan, Mauliyan dan Ariandi, sempat menyayat hati publik pada tahun 2023 lalu. Saat dievakuasi dari kawasan tambang batubara di Kutai Timur, kondisi keduanya sangat mengenaskan: kurus kering, dehidrasi parah, dan menderita malnutrisi akut. Kini, setelah tiga tahun berlalu sejak malam kelam itu, sebuah kabar membahagiakan datang dari belantara Kalimantan Timur.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, M Ari Wibawanto, mengenang kembali masa-masa kritis saat tim medis berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa mereka.
“Saat dievakuasi, mereka kekurangan pakan dan air bersih di habitatnya yang rusak. Fokus kami saat itu murni memulihkan fisik mereka. Beruntung, insting liar Mauliyan dan Ariandi masih sangat kuat, jadi kami tidak perlu melatih perilaku mereka dari nol lagi,” ungkap Ari kepada detikKalimantan, Senin (25/5/2026).
Kisah Pilu Sang Induk: Mengidap Hipoglikemia Demi Susui Anak
Manajer Pusat Rehabilitasi Centre for Orangutan Protection (COP), Widi Nursanti, membeberkan fakta menyedihkan saat evakuasi. Mauliyan, sang induk, kedapatan terus memeluk erat bayinya, Ariandi, yang baru berusia 3 tahun. Karena tubuhnya kelaparan, produksi ASI Mauliyan menyusut drastis, menyebabkan sang anak ikut mengalami gizi buruk.
Kondisi Mauliyan bahkan sempat ambruk dan tak sadarkan diri akibat hipoglikemia—kadar gula darahnya drop total karena memaksakan diri menyusui di tengah kondisi lapar teramat sangat.
“Mauliyan sempat pingsan dari pagi sampai siang. Tim paramedis langsung bergerak melakukan terapi cairan instan serta memberikan asupan madu dan gula agar ia bisa bertahan hidup,” kenang Paramedis COP, Miftachul Hanifah.
Diet Mewah dan Transformasi Menakjubkan
Demi mengembalikan kebugarannya, Mauliyan mendapatkan perlakuan istimewa di pusat rehabilitasi. Porsi makannya digandakan hingga dua kali lipat dibanding orang utan lain. Menu makanannya pun disulap menjadi serbamegah: tumpukan buah alpukat, susu kedelai murni, hingga guyuran cairan elektrolit rutin.
Hasilnya luar biasa. Hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, berat badan Mauliyan yang awalnya hanya 19 kilogram (setara berat orang utan remaja) melonjak drastis menjadi 34 kilogram! Kulitnya yang sempat keriput dan kering kini membaik, rambut jingganya tumbuh lebat berkilau, dan ia siap pulang ke rumah yang sebenarnya.
Kabar Terbaru dari Kanopi Gunung Batu Mesangat
Pada Maret 2024, induk dan anak ini resmi dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur. Kini, memasuki pertengahan 2026, tim pemantau merilis dokumentasi terbaru yang membuat siapa saja terharu.
Melalui lensa kamera pemantau, Mauliyan tampak anggun dan subur, bergelantungan dengan tubuh yang sudah gemuk dan bugar. Sementara si kecil Ariandi, yang kini sudah menginjak usia 6 tahun, terlihat sehat dan masih bermanja-manja menempel di gendongan hangat sang induk di atas puncak pohon. Rumah mereka mungkin sempat hilang, namun di hutan lindung ini, masa depan mereka telah kembali.