KAIMANA – Sebanyak 20 jemaah haji Kloter 25 asal Papua Barat yang menunaikan ibadah haji pada musim haji 1446 Hijriah/2025 Masehi akhirnya tiba di Kabupaten Kaimana. Rombongan yang tiba pada Selasa (8/7/2025) menggunakan KM Labobor ini disambut secara resmi oleh Wakil Bupati Kaimana, Isak Waryensi, di Masjid Sabilillah, Kelurahan Kaimana Kota.
“Atas nama pribadi, masyarakat, dan Pemkab Kaimana, saya ucapkan selamat datang para tamu Allah. Semoga seluruh amal ibadah selama di Tanah Suci diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dan memperoleh haji yang mabrur,” ungkap Isak dalam sambutannya.
Isak berharap para jemaah yang telah kembali ke tanah air dapat menjadi teladan di masyarakat, serta dapat meningkatkan keimanan dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan pentingnya nilai-nilai spiritual yang didapatkan dari ibadah haji sebagai dorongan untuk memperkuat keimanan dan mendukung pembangunan daerah yang berlandaskan nilai religius dan berkeadaban.
“Haji yang mabrur sejatinya melahirkan kepedulian terhadap sesama dan menjadi pendorong bagi pembangunan sosial kemasyarakatan di Kaimana,” tambahnya.
Penyambutan para jemaah ditandai dengan penyerahan simbolis bendera Kabupaten Kaimana oleh koordinator rombongan haji, H. Muhamad Hasan, kepada Wakil Bupati Kaimana, yang kemudian menyerahkan kembali para jemaah kepada keluarga mereka.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kaimana, Mustafa Musa Buatan, menyampaikan bahwa proses pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan lancar berkat dukungan berbagai pihak. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Kaimana, pihak Pelni, dan Batalyon 764/IB Kaimana atas kerja sama mereka dalam memastikan keberangkatan dan kepulangan jemaah.
“Proses keberangkatan dan kepulangan jemaah berjalan dengan baik, termasuk bantuan pengangkutan barang. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat,” ujar Mustafa.
Mustafa juga menjelaskan bahwa dari 36 jemaah haji Kloter 25 asal Kaimana, 20 orang telah tiba di Kaimana, sementara sisanya masih berada di kampung halaman mereka untuk berobat atau beristirahat. “Sebagian masih singgah di Makassar atau daerah asal mereka. Ini yang disebut PKK (Pengaruh Kampung Kuat), karena mereka ingin pulang kampung lebih dulu sebelum kembali ke Kaimana,” candanya.



