JAKARTA — Hari Bumi adalah peringatan tahunan yang dirayakan setiap tanggal 22 April di seluruh dunia sebagai bentuk penghormatan terhadap planet yang menjadi satu-satunya tempat tinggal umat manusia. Digagas pertama kali pada 1970 oleh senator Amerika Serikat Gaylord Nelson, peringatan ini lahir dari keprihatinan mendalam atas kerusakan lingkungan yang kian parah akibat ulah manusia.
Kini, Hari Bumi telah berkembang menjadi salah satu gerakan sipil terbesar di dunia, diikuti oleh lebih dari satu miliar orang dari berbagai penjuru bumi. Namun, di balik perayaan tahunan ini, tersimpan sejumlah fakta menarik yang belum banyak diketahui publik. Berikut lima di antaranya.
1. Jadwal Akademis Jadi Penentu Tanggal Peringatan
Pemilihan tanggal 22 April sebagai Hari Bumi ternyata bukan tanpa alasan. Pada masa awal penggagasannya di Amerika Serikat, tanggal tersebut sengaja dipilih karena jatuh di antara masa Liburan Musim Semi dan Ujian Akhir semester. Kondisi itu dinilai paling strategis untuk mendorong partisipasi mahasiswa sebesar-besarnya. Faktor cuaca pun turut diperhitungkan, sebab pada periode itu suhu di AS cukup bersahabat sehingga masyarakat lebih berminat untuk beraktivitas di luar ruangan.
2. Aksi Massal Berbuah Lahirnya Lembaga Lingkungan Negara
Gelombang partisipasi publik yang luar biasa pada Hari Bumi pertama membawa dampak nyata bagi kebijakan negara. Kongres Amerika Serikat merespons antusiasme tersebut dengan membentuk Badan Perlindungan Lingkungan Hidup atau Environmental Protection Agency (EPA) pada 2 Desember 1970. Lembaga ini bertugas menyusun dan mengawasi mekanisme perlindungan lingkungan hidup di negeri itu, sekaligus menjadi bukti bahwa gerakan akar rumput mampu mendorong perubahan kebijakan secara signifikan.
3. Dua Dekade Berselang, Gaung Hari Bumi Menggema ke Seantero Dunia
Dampak Hari Bumi tidak berhenti di batas wilayah Amerika Serikat. Berbagai kebijakan berwawasan lingkungan mulai bermunculan di AS sejak peringatan pertama digelar, dan pertimbangan ekologis pun menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penyusunan program pemerintah. Puncaknya, pada tahun 1990, gerakan ini resmi mendunia setelah sejumlah kelompok lingkungan hidup dari berbagai negara menggandeng Denis Hayes, salah satu penggagas awalnya, untuk menggelar kampanye besar demi keselamatan planet ini.
4. Canopy Project, Warisan Hijau dari Sebuah Peringatan
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa sekitar 18 juta hektare hutan lenyap setiap tahunnya akibat penggundulan. Merespons krisis ini, earthday.org selaku situs resmi Hari Bumi mendirikan Canopy Project pada 2010. Sejak program itu bergulir, puluhan juta pohon telah berhasil ditanam di berbagai belahan dunia sebagai upaya nyata memulihkan tutupan hijau bumi yang terus menyusut.
5. Kesepakatan Iklim Bersejarah Lahir di Hari yang Sama
Momentum Hari Bumi juga menjadi saksi lahirnya kesepakatan iklim paling bersejarah di era modern. Perjanjian Paris, yang disebut sebagai perjanjian iklim internasional paling penting sepanjang masa, resmi dibuka untuk penandatanganan pada 22 April 2016. Lebih dari 190 pihak turut menandatangani perjanjian tersebut, dengan komitmen bersama untuk menekan emisi karbon serta mengambil langkah-langkah konkret dalam menghadapi perubahan iklim global.
Kelima fakta di atas membuktikan bahwa Hari Bumi bukan sekadar perayaan simbolis yang datang dan pergi setiap tahun. Sejak pertama kali digelar pada 1970, gerakan ini telah meninggalkan jejak nyata dalam sejarah kebijakan lingkungan dunia, dari lahirnya lembaga perlindungan lingkungan, jutaan pohon yang tertanam, hingga perjanjian iklim yang mengikat ratusan negara. Di tengah krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan, semangat Hari Bumi mengingatkan bahwa perubahan besar selalu bermula dari kesadaran kolektif yang tumbuh bersama. (MK)