Republik Demokratik Kongo kembali didera petaka kesehatan setelah strain mematikan virus Ebola meluas di wilayah Provinsi Ituri bagian timur. Data terkini menunjukkan sedikitnya terdapat 246 kasus suspek dan 80 korban jiwa yang dilaporkan.
WHO memperingatkan bahwa angka riil di lapangan berpotensi jauh lebih besar daripada yang terdeteksi akibat tingginya mobilitas warga dan rumitnya pelacakan di daerah konflik.
Strain Bundibugyo: Belum Ada Obat maupun Vaksin
Hal yang paling mengkhawatirkan dari gelombang ke-17 wabah Ebola di Kongo ini adalah jenis virusnya. WHO mengonfirmasi bahwa wabah kali ini disebabkan oleh Virus Bundibugyo, sebuah strain langka yang hingga saat ini belum memiliki obat ataupun vaksin resmi yang disetujui.
Gejala awal virus ini meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan, yang kemudian dengan cepat memburuk menjadi muntah, diare, ruam, hingga pendarahan hebat serta gagal organ. Secara historis, tingkat kematian (fatality rate) virus ini rata-rata mencapai 50 persen.
Menyebar ke Ibu Kota, Area Tambang, hingga Negara Tetangga
Sejauh ini sudah ada delapan kasus yang dikonfirmasi secara laboratorium. Titik panas penularan telah menyebar di tiga zona kesehatan krusial:
-
Bunia: Ibu kota Provinsi Ituri.
-
Mongwalu & Rwampara: Dua kota pusat penambangan emas yang padat mobilitas pekerja.
-
Goma & Kinshasa: Satu kasus terkonfirmasi di ibu kota Kinshasa dari pasien yang baru pulang dari Ituri. Sementara kantor berita AFP melaporkan satu kasus juga terdeteksi di kota timur Goma yang saat ini dikuasai kelompok pemberontak M23.
Krisis ini bahkan telah resmi melintasi batas negara. Otoritas Uganda mengonfirmasi dua kasus positif di wilayahnya, termasuk seorang pria berusia 59 tahun asal Kongo yang meninggal dunia pada Kamis lalu.
Faktor Risiko Tinggi dan Rekomendasi WHO
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut situasi kemanusiaan yang tidak stabil, konflik bersenjata, dan banyaknya fasilitas kesehatan informal di Kongo membuat penyebaran virus menjadi sangat liar. Africa CDC juga menyoroti aktivitas tambang emas sebagai pemicu utama cepatnya penularan urban.
Sebagai langkah penanganan, WHO merekomendasikan Kongo dan Uganda segera mendirikan pusat operasi darurat untuk mengisolasi ketat pasien terkonfirmasi. Pasien baru boleh dilepas jika hasil dua tes spesifik Bundibugyo menunjukkan hasil negatif dalam rentang waktu 48 jam.
Meski menetapkan status darurat internasional, WHO meminta negara-negara luar Afrika untuk tidak menutup perbatasan atau membatasi perdagangan. “Tindakan (boikot) seperti itu biasanya diterapkan hanya karena rasa takut dan tidak memiliki dasar ilmiah,” tegas pihak WHO.