Jakarta – November 2026 menghadirkan sejumlah fenomena astronomi yang menarik untuk diamati. Sepanjang bulan ini, masyarakat berkesempatan menyaksikan berbagai peristiwa langit, mulai dari tiga puncak hujan meteor, parade planet, hingga kemunculan supermoon.
- 1. Konjungsi Bulan, Mars, dan Jupiter (2–3 November)
- 2. Hujan Meteor Taurid Selatan (4–5 November)
- 3. Bulan Baru (9 November)
- 4. Hujan Meteor Taurid Utara (11–12 November)
- 5. Parade Planet (14–16 November)
- 6. Hujan Meteor Leonid (17–18 November)
- 7. Elongasi Barat Terbesar Merkurius (20 November)
- 8. Supermoon atau Beaver Supermoon (24 November)
- 9. Uranus Berada pada Posisi Oposisi (25–26 November)
Selain itu, terdapat fenomena konjungsi Bulan dengan Mars dan Jupiter, Bulan Baru, elongasi barat terbesar Merkurius, serta oposisi Uranus. Berikut sembilan fenomena langit yang dijadwalkan menghiasi November 2026.
1. Konjungsi Bulan, Mars, dan Jupiter (2–3 November)
November dibuka dengan fenomena konjungsi Bulan, Mars, dan Jupiter pada 2–3 November 2026. Ketiga benda langit tersebut akan terlihat berdekatan dan berjajar di atas ufuk timur sekitar tengah malam.
Pada 2 November, jarak sudut antara ketiganya diperkirakan hanya sekitar enam derajat. Ketiganya kemudian akan terlihat semakin tinggi di langit hingga menjelang Matahari terbit.
2. Hujan Meteor Taurid Selatan (4–5 November)
Hujan Meteor Taurid Selatan diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 4–5 November 2026. Fenomena ini tergolong memiliki intensitas rendah, dengan perkiraan sekitar lima meteor per jam dalam kondisi langit yang gelap.
Meski jumlah meteor yang terlihat relatif sedikit, Taurid Selatan dikenal karena kemunculan bola api atau fireball. Kilatan meteor tersebut dapat terlihat terang ketika melintasi atmosfer Bumi.
3. Bulan Baru (9 November)
Bulan Baru akan terjadi pada 9 November 2026. Fase ini menjadi waktu yang baik untuk mengamati objek-objek langit jauh atau deep-sky objects karena cahaya Bulan tidak terlalu mengganggu pengamatan.
Beberapa objek yang dapat menjadi sasaran pengamatan antara lain Nebula Orion dan Galaksi Andromeda. Kondisi langit yang gelap memungkinkan kedua objek tersebut terlihat lebih jelas.
4. Hujan Meteor Taurid Utara (11–12 November)
Hujan Meteor Taurid Utara diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 11–12 November 2026. Seperti Taurid Selatan, fenomena ini menghasilkan sekitar lima meteor per jam.
Daya tarik utamanya adalah kemunculan bola api yang terang dan mencolok. Waktu pengamatan yang disarankan adalah setelah tengah malam, ketika rasi bintang Taurus berada pada posisi tertinggi di langit.
5. Parade Planet (14–16 November)
Pertengahan November akan diramaikan parade planet pada 14–16 November 2026. Fenomena ini dapat diamati menjelang Matahari terbit, ketika Mars dan Jupiter terlihat berdekatan di langit selatan.
Jarak sudut antara kedua planet tersebut diperkirakan hanya sekitar satu derajat, atau selebar jari kelingking jika dilihat dari sudut pandang pengamat.
Merkurius dan Venus juga akan tampak di atas ufuk tenggara sebelum Matahari terbit. Sementara itu, Uranus turut berada di kawasan langit yang dapat diamati, meskipun membutuhkan teleskop atau teropong binokular berkualitas.
6. Hujan Meteor Leonid (17–18 November)
Hujan Meteor Leonid menjadi fenomena berikutnya yang patut diperhatikan. Hujan meteor ini berlangsung sepanjang November dan diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 17–18 November 2026.
Leonid dikenal menghasilkan meteor dengan kecepatan sangat tinggi dan kilatan cahaya terang. Beberapa meteor bahkan dapat memperlihatkan warna tertentu ketika memasuki atmosfer Bumi.
7. Elongasi Barat Terbesar Merkurius (20 November)
Merkurius akan mencapai elongasi barat terbesarnya pada 20 November 2026. Elongasi merupakan kondisi ketika sebuah planet tampak berada pada jarak sudut tertentu dari Matahari jika diamati dari Bumi.
Ketika mencapai elongasi terbesar, Merkurius berada pada jarak sudut paling jauh dari Matahari dalam kemunculan tersebut sehingga relatif lebih mudah diamati. Pengamatan dapat dibantu dengan alat optik, dengan tetap memperhatikan keselamatan mata dan menghindari melihat Matahari secara langsung.
8. Supermoon atau Beaver Supermoon (24 November)
Salah satu fenomena yang menarik perhatian pada November 2026 adalah supermoon yang diperkirakan terjadi pada 24 November. Peristiwa ini menjadi supermoon pertama sejak Januari 2026.
Supermoon kali ini dikenal dengan sebutan Beaver Supermoon atau Bulan Purnama Berang-berang. Fenomena tersebut terjadi ketika Bulan berada lebih dekat dengan Bumi dibandingkan jarak rata-ratanya.
Dalam kondisi tertentu, Bulan dapat terlihat hingga 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dibandingkan ketika berada di titik terjauhnya dari Bumi atau apogee.
9. Uranus Berada pada Posisi Oposisi (25–26 November)
Menjelang akhir bulan, Uranus diperkirakan mencapai posisi oposisi pada 25–26 November 2026. Oposisi merupakan kondisi ketika sebuah planet berada di sisi berlawanan dari Matahari jika dilihat dari Bumi.
Posisi tersebut membuat Uranus berada dalam kondisi yang lebih optimal untuk diamati. Namun, pengamat memerlukan teleskop atau teropong binokular berkualitas untuk melihat planet yang dikenal sebagai raksasa es tersebut.
Beragam fenomena tersebut menjadikan November 2026 sebagai bulan yang menarik bagi pengamat astronomi. Mulai dari hujan meteor hingga supermoon, setiap peristiwa menawarkan kesempatan untuk menyaksikan dinamika benda-benda langit.