JATIM – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens. Terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Gunung setinggi 3.676 meter ini mencatatkan 61 erupsi dalam waktu 24 jam pada Jumat, 30 Mei 2025.
Aktivitas ini memicu peringatan keras bagi pendaki dan warga sekitar untuk menjauhi area berbahaya di sekitar kawah.
Erupsi Beruntun dengan Kolom Abu Hingga 900 Meter
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, aktivitas erupsi dimulai sejak pukul 00.22 WIB dan berlangsung hingga erupsi terakhir tercatat pukul 06.35 WIB. Salah satu letusan signifikan terjadi pada pukul 05.31 WIB dengan kolom abu vulkanik setinggi 900 meter di atas puncak kawah.
“Terjadi erupsi G. Semeru pada hari Jumat, 30 Mei 2025, pukul 05:31 WIB dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 900 m di atas puncak.”
Erupsi ini menghasilkan kolom abu tebal berwarna kelabu yang mengarah ke berbagai arah, meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekitar. Fenomena ini menunjukkan bahwa Semeru masih sangat aktif dan berpotensi menimbulkan bahaya.
Peringatan Keras: Jauhi Kawah dan Waspadai Bahaya Lahar
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan status Gunung Semeru pada level Waspada (Level II). Masyarakat dan pendaki dilarang keras melakukan aktivitas dalam radius 8 kilometer dari puncak kawah, terutama di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan.
Selain itu, potensi awan panas, guguran lava, dan banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat menjadi ancaman serius yang harus diwaspadai.
Petugas juga mengimbau warga untuk tidak mendekati sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan, karena risiko lahar yang dapat terjadi kapan saja, terutama saat hujan deras.
“Masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.”
Aktivitas Vulkanik Semeru: Ancaman dan Keindahan Alam
Gunung Semeru, yang juga dikenal sebagai Mahameru, selalu menjadi magnet bagi pendaki karena keindahan alamnya. Namun, aktivitas vulkanik yang meningkat menyebabkan jalur pendakian resmi ditutup sejak awal 2025 demi keamanan.
Penutupan ini diperpanjang hingga Februari 2025 karena cuaca ekstrem dan evaluasi pengelolaan pendakian. Meski begitu, masih ada pendaki ilegal yang nekat mendaki, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan mereka.
Pada 28 Mei 2025, Semeru mencatat erupsi dengan kolom abu setinggi 1.200 meter, menandakan aktivitas gunung yang fluktuatif dan berbahaya. Keindahan Mahameru memukau, tapi ancaman letusan dan lahar dingin menjadi pengingat bahwa alam tidak selalu ramah.
Tips Aman untuk Pendaki dan Warga Sekitar
Bagi yang berencana menjelajahi keindahan alam Gunung Semeru, berikut beberapa tips untuk tetap aman:
Patuhi Larangan Pendakian:
Hindari pendakian ilegal karena jalur resmi masih ditutup sampai waktu yang belum ditentukan.
Waspadai Area Bahaya:
Jangan mendekati radius 8 kilometer dari puncak atau aliran sungai yang berpotensi dilanda lahar.
Pantau Informasi Resmi:
Selalu ikuti perkembangan status gunung dari PVMBG atau pos pengamatan setempat.
Siaga Cuaca Ekstrem:
Hujan deras dapat memicu banjir lahar dingin, pastikan memeriksa prakiraan cuaca sebelum beraktivitas.
Semeru, Pesona dan Ancaman dalam Satu Tarikan Napas
Aktivitas Gunung Semeru yang semakin intens menjadi pengingat akan kekuatan alam yang tak terduga. Meski menawarkan panorama alam yang memukau, gunung ini menyimpan risiko besar yang tidak boleh diabaikan.
Dengan 61 kali erupsi dalam sehari, Semeru kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Bagi pendaki dan warga sekitar, kewaspadaan adalah kunci hidup berdampingan dengan Mahameru.