JAKARTA – Pemerintah Indonesia mengutuk keras serangan militer Israel terhadap sejumlah wilayah di Iran pada Jumat 13 Juni yang menargetkan fasilitas strategis termasuk infrastruktur nuklir dan tokoh militer penting. Aksi agresi ini dinilai memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah dan berisiko memicu konflik regional yang lebih luas.
Dalam pernyataan resmi melalui platform X, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan, “Indonesia dengan tegas mengutuk serangan Israel terhadap Iran. Tindakan ini merupakan pelanggaran hukum dan melemahkan dasar-dasar hukum internasional.” Pemerintah juga menegaskan bahwa tindakan militer tersebut mengancam stabilitas kawasan.
Fasilitas Nuklir Iran Diserang, Tokoh Kunci Tewas
Serangan Israel menyasar fasilitas nuklir utama Iran di Natanz, infrastruktur rudal balistik, serta sejumlah ilmuwan dan pejabat tinggi militer. Rekaman video yang beredar menunjukkan asap hitam membubung dari lokasi-lokasi serangan, mengindikasikan skala kehancuran yang besar.
Beberapa tokoh penting dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk Kepala Korps Garda Revolusi Islam IRGC Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri, serta seorang ilmuwan nuklir senior Iran.
Ketegangan antara Israel dan Iran telah berlangsung lama. Pada Mei 2025, Iran meluncurkan serangan balasan ke bandara utama Israel, menyebabkan kerusakan berat. Sepanjang tahun 2024, kedua negara juga terlibat dalam berbagai aksi militer yang meningkatkan ketidakstabilan di kawasan.
Indonesia Desak Semua Pihak Menahan Diri
Indonesia kembali menyerukan kepada seluruh pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan provokatif. “Semua pihak harus menahan diri secara maksimal dan menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan atau menyebabkan ketidakstabilan,” ujar Kementerian Luar Negeri dalam pernyataan resminya.
Pemerintah menegaskan pentingnya menyelesaikan konflik melalui cara damai yang sesuai dengan hukum internasional. Indonesia, yang konsisten mengusung prinsip diplomasi dan perdamaian, menyerukan dialog terbuka antarnegara sebagai solusi utama atas konflik ini.
Konteks Global dan Implikasi Diplomatik
Eskalasi ini memunculkan kekhawatiran dunia akan kemungkinan pecahnya konflik bersenjata berskala besar di Timur Tengah. Ketegangan antara dua kekuatan regional tersebut berpotensi memengaruhi harga energi global, stabilitas politik kawasan, serta dinamika geopolitik internasional.
Indonesia menegaskan kembali pentingnya diplomasi. “Indonesia menegaskan kembali kewajiban setiap negara untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui cara-cara damai sesuai dengan hukum internasional,” tutup pernyataan Kementerian Luar Negeri.
Dukungan Komunitas Internasional Diharapkan
Komunitas internasional kini menanti sikap negara-negara besar dan organisasi global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB dalam meredam ketegangan. Sebagai anggota aktif di berbagai forum internasional, Indonesia terus mendorong upaya de-eskalasi dan solusi damai demi menjaga stabilitas kawasan.