JAKARTA – Pada Senin (16/6/2025), setidaknya 51 warga Gaza, Palestina tewas dan 200 lainnya luka-luka ketika tank Israel menembaki kerumunan yang berusaha mendapatkan bantuan makanan dari truk di Khan Younis, Gaza Selatan. Insiden ini memperparah krisis kemanusiaan di tengah kelaparan yang melanda wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan medis setempat, sedikitnya 20 korban berada dalam kondisi kritis. Video yang beredar di media sosial menunjukkan belasan jasad korban berserakan di jalanan Khan Younis. Saksi mata, Alaa, yang diwawancarai Reuters di Rumah Sakit Nasser, menggambarkan kepanikan saat tank Israel menembakkan dua peluru ke arah ribuan warga yang berkumpul di jalan utama timur Khan Younis untuk menunggu truk bantuan.
“Tiba-tiba saja, mereka membiarkan kami maju dan menyuruh semua orang berkumpul, lalu peluru-peluru mulai jatuh, peluru tank,” ungkap Alaa, dilansir dari Reuters. Ia menambahkan, “Tak ada yang memandang orang-orang ini dengan belas kasih. Orang-orang mati, mereka tercabik-cabik, untuk mendapatkan makanan bagi anak-anak mereka. Lihatlah orang-orang ini, semua orang ini tercabik-cabik untuk mendapatkan tepung demi memberi makan anak-anak mereka.”
Militer Israel mengakui telah melakukan penembakan di area tersebut dan menyatakan sedang menyelidiki insiden itu. Dalam pernyataan resmi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebutkan, “Tadi pagi, sebuah kerumunan terdeteksi di dekat truk distribusi bantuan yang terjebak di wilayah Khan Yunis, dan berada di dekat pasukan IDF yang sedang beroperasi di area tersebut. IDF mengetahui laporan mengenai sejumlah individu yang terluka akibat tembakan IDF setelah kerumunan mendekat. Detail insiden sedang ditinjau. IDF menyesali segala kerugian terhadap individu yang tidak terlibat dan beroperasi untuk meminimalkan kerugian sebisa mungkin terhadap mereka sambil menjaga keselamatan pasukan kami.”
Insiden ini merupakan bagian dari kekerasan yang nyaris terjadi setiap hari selama tiga minggu terakhir, sejak Israel mencabut sebagian blokade total yang diberlakukan selama hampir tiga bulan. Namun, sistem distribusi bantuan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang didukung AS dan Israel, menuai kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menilai sistem ini tidak memadai, berbahaya, dan melanggar aturan imparsialitas kemanusiaan.
Menurut otoritas Gaza, ratusan warga Palestina tewas saat berusaha mencapai lokasi distribusi GHF, termasuk 23 orang yang tewas akibat tembakan Israel di Rafah pada hari yang sama. Sementara itu, GHF mengklaim telah mendistribusikan lebih dari tiga juta makanan di empat lokasi tanpa insiden.
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk sejak perang dipicu serangan Hamas pada Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 warga Israel. Serangan balasan Israel telah menewaskan hampir 55.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serta menggusur hampir seluruh populasi 2,3 juta jiwa dan memicu krisis kelaparan.