JAKARTA – PT Rekayasa Industri (Rekind) selalu menjunjung tinggi komitmennya, terutama dalam menjaga keselamatan kerja, perlindungan masyarakat, dan kelestarian lingkungan dalam setiap pengerjaan proyek EPC (Engineering, Procurement & Construction), termasuk di sektor energi bersih seperti gas dan panas bumi (PLTP) yang memiliki risiko tinggi.
Komitmen ini ditegaskan Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih, yang memastikan, aspek keselamatan (Health, Safety & Environment) bukan hanya prosedur, tetapi sudah menjadi budaya di tubuh perusahaan. “Keselamatan merupakan prioritas utama, baik untuk pekerja, masyarakat, maupun lingkungan. Apalagi proyek-proyek energi bersih memiliki risiko spesifik yang harus dikelola dengan sangat disiplin,” ujar wanita yang akrab disapa Yani tersebut.
Saat ini, Rekind dipercaya untuk ikut terlibat dalam proyek strategis peningkatan kapasitas PLTP Salak Unit 7 di Bogor, Jawa Barat. Proyek ini menjadi bagian dari rekam jejak panjang Rekind yang sukses menyelesaikan 16 proyek PLTP di berbagai daerah dengan total kapasitas mencapai 990,4 megawatt (MW). Beberapa di antaranya adalah PLTP Wayang Windu (110 MW), Dieng (60 MW), Lahendong Units 2-6 (100 MW), Ulubelu Unit 1-4 (220 MW), Kamojang Unit 4 dan 5 (95 MW), Muara Labuh (85 MW), dan Rantau Dedap (2×49,2 MW).
Proyek panas bumi, kata Yani, punya karakteristik risiko tersendiri. Salah satunya adalah potensi keberadaan gas berbahaya seperti Hidrogen Sulfida (H2S). Hingga kini, Rekind mampu mencegah kecelakaan kerja akibat H2S di proyek-proyek PLTP yang digarap.
“Kalau misalnya H2S tinggi, owner sudah memberi informasi sejak awal. Tugas kami memitigasi risiko, misalnya melakukan gas test, menyiapkan alat pelindung, rescue car, hingga prosedur evakuasi. Jika ambang batas paparan gas terlampaui, pekerjaan dihentikan sementara demi keselamatan,” jelasnya.
Selain risiko gas, kondisi geografis juga menantang, karena sumur panas bumi sering terletak di area terpencil dan berbukit atau di pegunungan. Rekind selalu menyiapkan rencana evakuasi dan tim rescue. “Di lapangan, tak boleh ada kompromi soal disiplin keselamatan. Karena di tengah hutan, tidak ada yang mengawasi kecuali diri kita sendiri,” sergah Hendi Hidayat VP K3LH Rekind.
Katanya, isu lingkungan juga menjadi perhatian besar. Risiko longsor di proyek PLTP yang dikerjakan misalnya, bisa berdampak serius terhadap kualitas badan air yang digunakan masyarakat karena lokasi PLTP biasanya berada di ketinggian dan kerap berdekatan dengan aliran sungai. “Kalau longsor terjadi, kita segera melakukan treatment agar air tidak keruh sampai ke permukiman. Prosedur ini wajib dijalankan demi perlindungan lingkungan dan masyarakat,” tutur Hendi.
Dalam setiap proyek, Rekind selalu berpegang pada dokumen Amdal dan melakukan pemantauan lingkungan secara berkala. Bahkan, Rekind bekerja sama dengan pihak ketiga, termasuk universitas terdekat yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap, untuk melakukan sampling dan analisis kualitas udara, air, maupun tanah.
Tak hanya soal teknis, Rekind juga menaruh perhatian besar pada komunikasi sosial. Informasi tentang potensi dampak proyek seperti misalnya aktivitas flaring maupun kebisingan, selalu disosialisasikan kepada masyarakat melalui tim TJSL (Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan) perusahaan. “Bahasa teknis sering sulit dipahami warga, jadi kami bekerja sama dengan tim TJSL di lapangan agar pesan tersampaikan dengan jelas,” kata Triyani.
Hendi menambahkan, Rekind memiliki kebijakan tertulis terkait keselamatan kerja, termasuk HSE Golden Rules yang menjadi pegangan seluruh pekerja dan manajemen. Bahkan, jika terjadi konflik antara jadwal proyek dengan aspek keselamatan atau lingkungan, Rekind tidak ragu menunda proyek untuk memenuhi ketentuan dan persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Rekind optimistis, pengalaman panjang, inovasi teknologi, dan budaya keselamatan yang kuat menjadi bekal penting untuk terus berkontribusi dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.