PYONGYANG, KORUT – Pemerintah Rusia dan Korea Utara akan membuka penerbangan langsung perdana antara Moskow dan Pyongyang mulai 27 Juli 2025, menandai penguatan hubungan diplomatik kedua negara. Maskapai berbiaya rendah Nordwind Airlines akan mengoperasikan rute tersebut, yang menjadi tonggak penting dalam konektivitas udara Rusia-Korea Utara setelah puluhan tahun terputus.
Menurut laporan kantor berita Rusia, Tass, yang dikutip pada Selasa (15/7), “Ini akan menandai pertama kalinya ibu kota Korea Utara dan Rusia dihubungkan oleh layanan udara langsung.” Penerbangan ini diharapkan berlangsung selama sekitar delapan jam dan akan beroperasi dua kali sepekan, menyusul persetujuan otoritas penerbangan Rusia (Rosaviatsiya) atas permintaan Nordwind Airlines pada bulan lalu.
Pembukaan rute Moskow–Pyongyang ini bukan sekadar langkah transportasi, melainkan simbol penguatan aliansi strategis antara Rusia dan Korea Utara. Sejak penandatanganan perjanjian pertahanan bersama pada Juni 2024, kedua negara terus memperluas kerja sama di berbagai bidang, termasuk transportasi.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Rusia untuk memperluas koneksi udara dan maritim dengan Korea Utara, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, saat kunjungannya ke Wonsan pekan lalu.
Sebelumnya, koneksi udara langsung antara kedua ibu kota ini pernah ada pada era Uni Soviet. Namun, pasca-runtuhnya Uni Soviet, penerbangan langsung terhenti akibat penurunan hubungan diplomatik, sanksi internasional, serta masalah keamanan yang melibatkan maskapai Korea Utara, Air Koryo. Hingga 2023, Air Koryo hanya melayani penerbangan terbatas antara Pyongyang dan Vladivostok, yang terutama digunakan oleh diplomat dan pejabat.
Nordwind Airlines Pimpin Koneksi Baru
Nordwind Airlines, maskapai berbiaya rendah yang berbasis di Rusia, akan menjadi pelopor rute ini. Dengan jadwal awal satu penerbangan per bulan, maskapai ini bertujuan membangun permintaan yang stabil.
“Ibu kota Rusia dan Korea Utara akan dihubungkan dengan layanan penerbangan langsung untuk pertama kalinya,” ujar Kementerian Perhubungan Rusia, seperti dikutip Anadolu Agency, menegaskan pentingnya rute ini dalam hubungan bilateral.
Penerbangan ini juga diharapkan dapat memfasilitasi pertukaran ekonomi dan budaya, sekaligus mendukung kunjungan pejabat tinggi kedua negara. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, langkah ini merupakan bagian dari upaya Moskow dan Pyongyang untuk memperluas koneksi transportasi setelah pandemi COVID-19 menghentikan banyak rute internasional.
Konteks Geopolitik dan Reaksi Global
Penguatan hubungan Rusia–Korea Utara, termasuk pembukaan rute penerbangan ini, terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Korea Utara telah menjadi sekutu dekat Moskow.
Laporan intelijen Korea Selatan menyebutkan bahwa Pyongyang telah memasok lebih dari 12 juta peluru artileri ke Rusia, sebuah kerja sama yang menuai kecaman dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.
Pada Juni 2024, ketiga negara tersebut mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk “transfer senjata yang terus berlanjut” antara Pyongyang dan Moskow, menyebutnya melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB. Meski demikian, Rusia dan Korea Utara terus memperdalam kolaborasi, termasuk rencana pemulihan jalur kereta api dan transportasi laut.
Pembukaan rute penerbangan Moskow–Pyongyang tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga berpotensi membuka pintu bagi kerja sama lebih luas di bidang pariwisata, perdagangan, dan diplomasi. Dengan waktu tempuh sekitar delapan jam, rute ini dapat menjadi jalur strategis bagi pejabat, pelaku bisnis, dan bahkan wisatawan yang ingin menjelajahi hubungan unik antara kedua negara.
Namun, langkah ini juga memicu pertanyaan tentang dampaknya terhadap dinamika geopolitik global, terutama di tengah sanksi internasional yang masih membayangi kedua negara. Akankah rute ini menjadi jembatan baru untuk kerja sama atau justru memperdalam ketegangan dengan komunitas internasional? Hanya waktu yang akan menjawab.