Pembalap Mercedes, George Russell, mengaku bahwa emosinya kini sudah “melampaui batas frustrasi.” Peluang besarnya untuk merengkuh podium di GP Monako 2026 mendadak sirna seketika setelah dirinya dihantam penalti drive-through yang menjatuhkan posisinya ke papan bawah.
Russell tampaknya sedang menjadi langganan nasib sial musim ini. Ia harus rela mencatatkan poin nol (zero score) dalam dua seri Formula 1 berturut-turut. Petaka di Monako dimulai saat ia dijatuhi sanksi 5 detik karena dianggap mengebut di pit lane. Penderitaannya makin lengkap ketika ia kembali diganjar penalti drive-through akibat kru mekanik Mercedes gagal menjalankan hukuman pertama dengan benar saat ia melakukan pit stop.
Meskipun secara hitam di atas putih aturan FIA sangat jelas mengenai kedua pelanggaran tersebut, Russell bersikeras bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun dan mempertanyakan mengapa hukuman yang diterimanya sangat kejam.
“Rasa frustrasi saya sudah lewat batas sekarang,” ungkap Russell emosional kepada awak media, termasuk Crash.net.
“Saya benar-benar kesulitan mencerna bagaimana bisa musim ini berjalan seburuk ini. Tim sudah menegaskan bahwa tidak ada kesalahan yang saya lakukan terkait masalah kecepatan di pit lane. Itu murni masalah gangguan software (software glitch), dan kami tidak tahu dari mana asalnya.”
Kekacauan di Menit-Menit Akhir Menghancurkan Segalanya
George Russell sebenarnya bukan satu-satunya pembalap yang terdeteksi mengebut di pit lane. Sederet nama besar seperti sang runner-up Lewis Hamilton, Franco Colapinto, hingga Pierre Gasly juga ikut menjadi korban sistem. Namun, nasib Russell adalah yang paling tragis karena adanya miskomunikasi di dalam garasi saat ia sedang nyaman mengamankan posisi ketiga (P3).
“Saya mendapat penalti drive-through karena ada banyak kebingungan di menit-menit terakhir. Awalnya saya diperintahkan untuk tetap berada di trek, tetapi kemudian FIA mengarahkan mobil-mobil untuk melewati pit lane,” beber pembalap asal Inggris tersebut.
“Saya sempat bertanya kepada tim, ‘Apakah saya harus ganti ban atau tidak?’, tapi saya melihat ban saya sudah disiapkan di sana. Segalanya terjadi terlalu cepat. Saya rasa para mekanik tidak menangkap pesan bahwa mereka harus mendiamkan mobil dulu selama 5 detik sebelum menyentuhnya. Saya bahkan sempat bilang di radio kalau saya rela menjalani penalti itu di lap berikutnya karena saya punya jarak 20 detik dari Gasly di belakang, tapi aturan berkata lain.”
Dampak dari eror perangkat lunak dan salah paham ini sangat fatal bagi Russell. “Akibat glitch software itu, saya mungkin hanya mendapat keuntungan 0,1 detik di sepanjang pit lane, tetapi sebagai gantinya, saya harus kehilangan 13 posisi,” keluhnya gusar.
“Pil Pahit yang Sangat Sulit Ditelan”
Akibat hasil minor ini, Russell kini tertinggal jauh hingga 68 poin di belakang rekan setimnya, Kimi Antonelli, yang memuncaki klasemen pembalap. Posisinya juga merosot ke peringkat ketiga setelah digeser oleh Lewis Hamilton.
“Saya akui hari Sabtu kemarin (saat kualifikasi) adalah hari yang buruk bagi saya. Tapi untuk hasil akhir di dua balapan terakhir, saya berharap saya bisa menyalahkan diri sendiri atas rusaknya mobil di Kanada atau penalti hari ini,” kata Russell.
“Namun kenyataannya, semua ini benar-benar di luar kendali saya, dan itu adalah pil yang sangat pahit untuk ditelan. Saya sebenarnya tidak pernah percaya pada takdir baik atau buruk. Tapi kalau melihat musim ini secara keseluruhan: saya memimpin balapan di Kanada lalu mobil saya rusak, hari ini saya bisa saja berdiri di podium tapi malah dapat nol poin, dan saat memimpin di Jepang, Safety Car keluar tepat 10 detik setelah saya keluar dari pit. Andai kejadian itu tidak ada, posisi saya di klasemen akan sangat berbeda. Sekarang, saya tertinggal 70 poin dari puncak,” pungkasnya lesu.