Kesepakatan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat pekan lalu hancur seketika. Kota Beirut kembali mencekam setelah jet tempur Israel meluncurkan serangan udara pertamanya ke ibu kota Lebanon tersebut sejak gencatan senjata diumumkan.
Dua serangan udara menghantam dua gedung apartemen yang menjadi benteng pertahanan Hezbollah (kelompok yang disokong Iran) di pinggiran selatan Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, serangan brutal ini menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 20 orang lainnya, termasuk wanita dan anak-anak.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, langsung mengonfirmasi serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa militer negaranya telah menghantam “markas besar teroris di distrik Dahieh, Beirut, sebagai respons atas tembakan roket Hezbollah ke wilayah Israel.”
Apartemen Hancur Lebur dan Ancaman “To Be Continued”
Ledakan hebat pada hari Minggu malam tersebut mengoyak lantai bawah bangunan tempat tinggal warga, membuat struktur apartemen terekspos dan menyebarkan puing-puing beton serta besi meliuk di sepanjang jalanan. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kerumunan warga bergegas ke lokasi untuk mengevakuasi korban yang terluka, di antaranya terdapat empat wanita dan empat anak-anak.
Ketegangan semakin memuncak setelah juru bicara militer Israel berbahasa Arab mengunggah pernyataan di platform X. Sambil menegaskan bahwa infrastruktur teroris Hezbollah adalah target utama, ia memberikan pesan ancaman yang mengerikan:
“To be continued (Bersambung),” tulisnya singkat.
Balasan Sengit dari Hezbollah dan Iran
Hezbollah tidak tinggal diam. Militer Israel melaporkan telah mencegat dua proyektil yang menyeberang dari wilayah Lebanon. Dalam pernyataan resminya, Hezbollah mengaku telah menghujani posisi artileri Israel di Barak Yiftah dan pasukan di dekat Kolam al-Marj dengan roket.
Menurut Hezbollah, rentetan serangan tersebut merupakan respons langsung atas tindakan Israel yang “berulang kali melanggar gencatan senjata dan menyerang desa-desa di Lebanon Selatan.”
Di sisi lain, Iran yang menjadi penyokong utama Hezbollah ikut meradang. Ebrahim Rezaie, juru bicara komite keamanan nasional dan kebijakan luar negeri parlemen Iran, menjanjikan “balasan yang tegas dan menyakitkan” atas serangan Israel ke Beirut.
Diplomasi Trump dan “Jebakan” Gencatan Senjata
Sebelum gencatan senjata 3 Juni disepakati, ancaman serangan besar Israel ke Dahieh sempat memicu eksodus massal warga dan membuat jalur diplomasi AS bergerak panik. Presiden Donald Trump sempat mengumumkan lewat Truth Social bahwa “tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut” setelah berbicara dengan Netanyahu. AS bahkan sempat menginstruksikan Israel untuk mundur melalui mediator Qatar.
Namun dalam wawancara terbaru dengan NBC pada hari Minggu, Trump tampak mulai menjaga jarak dengan menyatakan bahwa ia tidak menuntut Lebanon menjadi bagian dari perjanjian damai mana pun dengan Iran—sebuah pemisahan jalur politik yang kini justru mengancam stabilitas kawasan.
Konflik terbuka ini sendiri pecah sejak Maret 2026, ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai aksi balas dendam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran akibat serangan Israel. Sejak itu, serangan udara dan invasi darat terus memanas.
Meski kesepakatan damai sudah diteken sejak April lalu, aturan tersebut nyatanya hanya menjadi macan kertas yang terus dilanggar oleh kedua belah pihak hampir setiap akhir pekan.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, yang juga sekutu dekat Hezbollah, secara tegas menolak perjanjian yang dimediasi AS tersebut. Berri menyebut kesepakatan itu sebagai “jebakan” karena sama sekali tidak membahas penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon Selatan. Sementara itu, Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menegaskan bahwa melucuti senjata kelompoknya sama saja dengan memenuhi target musuh.