NEW YORK AS – Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara tegas mencabut visa Presiden Kolombia Gustavo Petro setelah ia terlibat dalam aksi demonstrasi massal yang mendukung Palestina di kawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York. Langkah kontroversial ini memicu perdebatan global soal kebebasan berpendapat versus kebijakan luar negeri AS.
Keputusan revokasi visa itu diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Jumat (27/9) waktu setempat, hanya sehari setelah Petro bergabung dengan ribuan demonstran pro-Gaza di sekitar markas besar PBB.
Aksi tersebut menjadi sorotan dunia, di mana Petro tampak berorasi di tengah kerumunan, menyerukan solidaritas terhadap rakyat Palestina yang tengah menghadapi konflik berkepanjangan di Gaza.
Menurut pernyataan resmi dari akun X resmi @statedept, tindakan Petro dianggap melanggar norma diplomatik. “Hari ini, Presiden Kolombia berdiri di Jalan New York City dan mendesak tentara AS untuk tak mematuhi perintah dan menghasut kekerasan,” tulis pernyataan tersebut. Selanjutnya, pihak berwenang AS menegaskan, “Kami akan mencabut visa Petro karena tindakan yang gegabah dan menghasut.”
Insiden ini terjadi di tengah kunjungan Petro ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB ke-79. Dalam pidatonya di forum internasional tersebut, Petro tak segan melontarkan kritik pedas terhadap Presiden AS Donald Trump.
Ia menuduh Trump terlibat langsung dalam dukungan terhadap Israel, yang menurutnya berkontribusi pada kekerasan di Gaza. “Dia membiarkan rudal diluncurkan ke anak-anak, remaja, perempuan, dan lansia di Gaza. Trump adalah kaki tangan genosida. Karena itu genosida harus diteriakkan berkali-kali,” ujar Petro dengan nada tegas, seperti yang terekam dalam video yang viral di media sosial.
Rekaman aksi Petro di demo pro-Gaza pun menyebar luas, menampilkan dirinya berbicara di depan massa sambil memegang spanduk solidaritas.
Hal ini memperburuk situasi, mengingat AS merupakan sekutu dekat Israel dan terus memberikan bantuan militer senilai miliaran dolar selama konflik Palestina-Israel yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa sejak Oktober 2023.
Para analis internasional menilai revokasi visa ini sebagai sinyal keras dari Washington terhadap pemimpin asing yang menentang kebijakan Timur Tengahnya. “Ini bukan hanya soal satu demo, tapi pesan bahwa AS tak segan menggunakan alat diplomasi untuk menekan suara kritis,” kata seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Columbia, yang enggan disebut namanya.
Hingga kini, Pemerintah Kolombia belum merespons secara resmi atas langkah AS. Namun, pendukung Petro di media sosial ramai membela aksi sang presiden sebagai bentuk keberanian moral. Sementara itu, demo pro-Palestina di New York terus bergulir, menarik perhatian ribuan aktivis yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza.
Kejadian ini menambah ketegangan diplomatik antara Bogota dan Washington, dua negara yang selama ini menjalin kerjasama erat di bidang perdagangan dan keamanan.