Pemerintahan Donald Trump dinilai tengah membuka jalan untuk menguasai potensi energi dan mineral Venezuela menyusul penangkapan dramatis Presiden Nicolás Maduro. Sejumlah pejabat AS secara terbuka menyoroti kekayaan minyak, gas, dan mineral kritis Venezuela sebagai aset strategis global, meski klaim ini dibantah oleh para petinggi industri migas Amerika Serikat.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick pada Senin menyebut Venezuela memiliki “cadangan minyak dan gas alam yang sangat besar”, ditambah “ratusan juta ton nikel dan bauksit” serta “ribuan ton emas” di kawasan Orinoco Mining Arc. Ia menyebut wilayah tersebut sebagai salah satu kawasan pertambangan terbesar di dunia.
Trump bahkan menyatakan perusahaan-perusahaan minyak AS siap “menggelontorkan miliaran dolar” untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang telah lama rusak dan meningkatkan produksi minyak nasional.
Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh petinggi tiga raksasa migas AS—Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron. Mereka menegaskan tidak pernah diajak berdiskusi oleh Gedung Putih, baik sebelum maupun setelah penangkapan Maduro.
“Tidak ada satu pun dari ketiga perusahaan itu yang berbicara dengan Gedung Putih mengenai operasi di Venezuela, sebelum ataupun sesudah penangkapan tersebut,” ujar seorang eksekutif industri migas kepada Reuters. Menteri Energi AS Chris Wright dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif migas akhir pekan ini untuk membahas arah kebijakan ke depan.
Kepentingan China Ikut Dipertaruhkan
Langkah Washington ini secara langsung menantang dominasi ekonomi China di Venezuela. Sejak 2007, Beijing telah mengucurkan lebih dari US$62 miliar ke negara tersebut—setara dengan 53 persen total pinjaman China ke Amerika Latin.
Saat ini, China menyerap sekitar 80 persen ekspor minyak Venezuela, dengan rata-rata 470.000 barel per hari sepanjang 2025. Sebagai imbalannya, Caracas masih memiliki utang sekitar US$10–12 miliar kepada Beijing melalui skema pinjaman berbasis minyak.
Selain energi, pembeli China juga telah memperoleh akses ke mineral kritis seperti emas, koltan, dan unsur tanah jarang di Orinoco Mining Arc—zona seluas 112.000 kilometer persegi yang dibentuk Maduro pada 2016. Dominasi China atas sekitar 90 persen kapasitas pemurnian unsur tanah jarang global telah lama menjadi titik panas dalam ketegangan dagang AS–China, terutama sejak Beijing memberlakukan kontrol ekspor mineral strategis tersebut.
Jalan Panjang Pemulihan Energi Venezuela
Meski memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel—terbesar di dunia—produksi minyak Venezuela telah anjlok tajam, dari 3,5 juta barel per hari pada era 1970-an menjadi sekitar 900.000 barel per hari saat ini. Sebagian besar cadangan tersebut berupa minyak mentah ekstra berat yang mahal dan sulit diolah.
Para analis menilai pemulihan sektor energi Venezuela bukan perkara cepat. Francisco Monaldi dari Rice University memperkirakan diperlukan investasi hingga US$100 miliar selama satu dekade untuk mengembalikan produksi ke level puncak historis. Sementara Ali Moshiri, mantan eksekutif Chevron di Venezuela, memperkirakan butuh sekitar US$7 miliar untuk meningkatkan produksi menjadi 1,5 juta barel per hari dalam waktu 18 bulan.
Di tengah dinamika tersebut, saham Chevron—satu-satunya perusahaan migas besar AS yang masih beroperasi di Venezuela—melonjak lebih dari 5 persen pada Senin, bertepatan dengan kemunculan Maduro di pengadilan federal Manhattan. Presiden Venezuela berusia 69 tahun itu bersama istrinya menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narko-terorisme dan impor kokain, yang dapat berujung pada hukuman penjara seumur hidup.