CEO McLaren, Zak Brown, mengakui timnya melakukan kesalahan fatal dalam perebutan gelar Formula 1 musim 2025, meski akhirnya sukses meraih Gelar Juara Konstruktor kedua secara beruntun serta gelar juara dunia pembalap pertama bagi Lando Norris. Pengakuan itu disampaikan Brown melalui surat terbuka yang dipublikasikan di situs resmi McLaren.
Dalam surat tersebut, Brown secara terbuka membahas sejumlah blunder krusial yang hampir saja menggagalkan musim gemilang tim asal Woking itu—sekaligus pelajaran penting untuk perjalanan ke depan.
“Sepanjang musim ada banyak momen sulit, dan kami jelas melakukan beberapa kesalahan yang menguntungkan para pesaing—hal ini penting untuk diakui. Namun, semuanya kami tangani dengan cepat dan menjadi pelajaran berharga yang membuat kami tumbuh sebagai tim,” tulis Brown.
Kesalahan yang Nyaris Berakibat Fatal
Surat terbuka itu muncul hanya beberapa pekan setelah dua insiden besar yang nyaris membuka jalan bagi Max Verstappen untuk merebut kembali gelar juara dunia.
Pada Grand Prix Las Vegas November lalu, Norris dan Oscar Piastri didiskualifikasi setelah mobil mereka gagal lolos pemeriksaan teknis pascabalapan. Kepala tim Andrea Stella menjelaskan, porpoising berlebihan menyebabkan keausan skid block lantai mobil melewati batas toleransi, membuat McLaren kehilangan poin penting.
Masalah berlanjut sepekan kemudian di Grand Prix Qatar, ketika McLaren membuat keputusan strategis yang disebut banyak pengamat sebagai salah satu kesalahan terburuk musim 2025. Tim memilih tidak memanggil Norris dan Piastri masuk pit saat safety car muncul di lap ketujuh, sementara hampir semua rival melakukannya. Keputusan itu menghilangkan peluang kemenangan hampir pasti bagi Piastri.
“Kami jelas membuat kesalahan besar. Kami menang dan kalah sebagai sebuah tim,” ujar Brown kala itu.
Dua kesalahan beruntun tersebut membuat Verstappen kembali masuk dalam perburuan gelar, memangkas keunggulan McLaren menjadi hanya dua poin menjelang seri penentuan di Abu Dhabi.
“Yang Terpenting Adalah Cara Kami Merespons”
Dalam suratnya, Brown menekankan filosofi dasar dunia balap. Kesalahan, menurutnya, adalah bagian dari olahraga ini—namun respons terhadap kesalahan itulah yang menentukan kualitas sebuah tim.
“Kami sudah cukup lama berada di dunia balap untuk memahami bahwa hal buruk bisa terjadi. Itu bagian dari permainan. Yang terpenting adalah bagaimana kami merespons. Saat kami keliru, kami bertanggung jawab dan menghadapinya secara terbuka serta konstruktif,” tulis Brown.
Ia juga memuji persaingan ketat dari Red Bull dan Verstappen, yang memaksa McLaren bertarung hingga balapan terakhir dalam salah satu musim paling kompetitif sebelum era regulasi baru.
Menatap Tantangan Musim 2026
Brown turut meredam euforia perayaan gelar dengan nada realistis. Musim 2026 akan menjadi titik balik besar dengan regulasi aerodinamika dan unit tenaga yang sepenuhnya baru.
“Status juara bertahan tidak berarti banyak ketika semua tim memulai dari titik awal yang sama akibat perubahan regulasi,” tegasnya.
McLaren dijadwalkan meluncurkan mobil 2026 mereka pada 9 Februari di Bahrain, menjelang rangkaian tes pramusim. Andrea Stella menyatakan optimisme terhadap kekuatan departemen teknis timnya, menyebutnya sebagai salah satu tim teknis terbaik yang pernah ia tangani sepanjang 26 tahun kariernya di Formula 1.