JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menunjukkan sikap tegas terhadap Iran di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah. Langkah ini tercermin dari penguatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan tersebut, yang memunculkan spekulasi potensi operasi militer jika ketegangan semakin meningkat.
Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln (Carrier Strike Group) kini bergerak menuju wilayah Timur Tengah setelah sebelumnya beroperasi di Laut China Selatan. Kapal induk nuklir kelas Nimitz ini membawa Wing Udara Kapal Induk 9 (CVW-9), yang terdiri dari jet tempur F-35C Lightning II, F/A-18E/F Super Hornet, serta sejumlah pesawat pendukung lainnya. Gugus tempur ini juga dikawal kapal perusak rudal berpemandu dan kapal penjelajah.
Pergerakan tersebut dilaporkan sebagai respons atas perintah langsung Presiden Trump untuk memperkuat posisi militer Amerika Serikat di kawasan.
Bersamaan dengan itu, Angkatan Udara AS mengerahkan tambahan pesawat tempur taktis. Data pelacak penerbangan menunjukkan sejumlah jet F-15E Strike Eagle, bersama pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 Stratotanker, lepas landas dari Pangkalan Udara RAF Lakenheath di Inggris menuju Timur Tengah. Pesawat-pesawat tersebut dilaporkan telah mendarat di salah satu pangkalan militer AS di kawasan, termasuk di Yordania.
Pengamat pertahanan AS, Howard Altman, pada 20 Januari 2026 menilai F-15E telah menjadi tulang punggung operasi udara Amerika Serikat di Timur Tengah selama hampir satu dekade. Pesawat ini juga berada di garis depan dalam menghadapi serangan drone dan rudal jelajah Iran yang sebelumnya menargetkan Israel. Menurutnya, F-15E berpotensi memegang peran krusial apabila Iran melancarkan serangan besar terhadap Israel maupun aset Amerika Serikat di kawasan.
Selain penguatan udara, terpantau peningkatan aktivitas pesawat kargo berat C-17 Globemaster III yang mengangkut peralatan dan pasokan logistik. Kondisi ini mengindikasikan persiapan menyeluruh untuk operasi berskala besar, termasuk kemungkinan pengiriman peralatan darat seperti tank tempur utama M1 Abrams dan kendaraan tempur infanteri M2 Bradley. Meski demikian, keterkaitan langsung pengiriman kendaraan lapis baja tersebut dengan situasi Iran belum mendapat konfirmasi resmi dari Pentagon.
Pergerakan militer ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan akibat tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi anti-rezim dalam beberapa bulan terakhir. Para analis menilai penguatan tersebut bertujuan memberikan opsi militer yang kredibel bagi Presiden Trump, baik sebagai langkah pencegahan maupun respons defensif terhadap potensi ancaman dari Teheran.
Situasi di kawasan terus dipantau secara ketat, mengingat eskalasi lebih lanjut berisiko memicu konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.