JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pemulihan layanan air bersih di Kabupaten Aceh Tamiang sebagai respons atas kerusakan infrastruktur pascabencana yang berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat.
Fokus utama penanganan diarahkan ke Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karang Baru yang menjadi tulang punggung suplai air untuk kawasan Karang Baru, Kuala Simpang, Rantau, hingga Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Tamiang.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan SPAM Karang Baru memiliki peran krusial karena menopang layanan publik vital, terutama fasilitas kesehatan daerah.
“Air bersih adalah kebutuhan mendasar, terutama untuk rumah sakit. Karena itu, Kementerian PU memastikan suplai air tetap terjaga sambil menyiapkan pembangunan permanen agar ke depan sistem ini lebih bagus lagi,” ucap Dody dalam keterangan persnya, Kamis, 23 Januari 2026.
Pemulihan SPAM Karang Baru dilakukan melalui skema Design and Build yang mencakup pembangunan instalasi pengolahan air dan reservoir baru secara terintegrasi.
Pembangunan infrastruktur permanen tersebut ditargetkan rampung dalam waktu enam bulan sebagai solusi jangka menengah dan panjang bagi keberlanjutan layanan air bersih.
Sambil menunggu pembangunan selesai, Kementerian PU menjaga kontinuitas pasokan melalui perbaikan fasilitas eksisting PDAM Tirta Tamiang serta optimalisasi penggunaan instalasi pengolahan air mobile.
Langkah sementara ini difokuskan untuk memastikan distribusi air bersih ke RSUD Aceh Tamiang tetap aman dan stabil di tengah proses pemulihan.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Dewi Chomistriana menyampaikan bahwa penanganan SPAM Karang Baru dirancang menyeluruh dengan peningkatan kapasitas dan kualitas pengolahan air.
“Kami akan membangun instalasi pengolahan air baru dengan kapasitas 100 liter per detik. Selain itu, reservoir baru berkapasitas 1.000 meter kubik, serta IPA baja yang akan kami adakan, target penyelesaiannya Juli 2026,” ucap Dewi.
Pembangunan reservoir berkapasitas 1.000 meter kubik telah memasuki tahap awal yang ditandai dengan pelaksanaan pancang perdana di lokasi proyek.
Selain itu, Kementerian PU menambahkan fasilitas prasedimentasi guna mengatasi tingkat kekeruhan air baku yang meningkat signifikan setelah bencana.
“Tadi kita lihat airnya sangat keruh, jauh di atas ambang batas. Karena itu, kami tambahkan tangki prasedimentasi agar proses pengolahan lebih optimal dan tidak memerlukan bahan kimia berlebihan,” katanya.
Hasil identifikasi Kementerian PU menunjukkan dampak bencana terhadap infrastruktur air minum di Provinsi Aceh tergolong luas dan serius.
Sebanyak 52 SPAM tercatat mengalami kerusakan yang tersebar di 11 kabupaten dan kota di wilayah Aceh.
Gangguan tersebut menyebabkan terhentinya kapasitas suplai air hingga 2.151 liter per detik yang berpotensi memengaruhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Penanganan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi dengan melibatkan pemerintah daerah serta pengelola SPAM agar pemulihan berlangsung cepat, efektif, dan berkelanjutan.***