Awal tahun 2026 diwarnai kontroversi besar di industri makanan bayi ketika dua raksasa produsen susu formula, Nestle dan Danone, melakukan penarikan massal produk mereka di berbagai negara karena dugaan kontaminasi racun cereulide.
Toksin ini, yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus, bisa menyebabkan gejala serius seperti muntah hebat dan diare pada bayi. Penarikan ini tidak hanya memicu kekhawatiran orang tua, tapi juga menjadi pelajaran berharga tentang keamanan pangan. Berikut beberapa fakta seputar kasus ini yang patut diketahui.
1. Cereulide: Racun Tahan Panas yang ‘Abadi
Cereulide adalah toksin yang sangat stabil dan tahan panas, sehingga tidak bisa dihilangkan meskipun produk dipanaskan atau dimasak ulang. Toksin ini diproduksi oleh strain tertentu bakteri Bacillus cereus, yang bisa mengkontaminasi bahan baku seperti minyak arachidonic acid (AA oil) dalam susu formula.
Gejala keracunan muncul cepat, yaitu muntah dan diare dalam 30 menit hingga 3 jam setelah konsumsi, dan bisa berakibat fatal pada bayi yang rentan. Cereulide sering ditemukan di makanan seperti nasi atau produk susu yang tidak disimpan benar, tapi kasus ini menjadi yang pertama kali melibatkan susu formula bayi secara massal.
2. Penarikan Nestle di 49 Negara, Termasuk Indonesia
Nestle melakukan penarikan sukarela terhadap produk susu formula bayi seperti S-26 Promil Gold pHPro 1 (untuk usia 0-6 bulan) di 49 negara, termasuk Indonesia, setelah ditemukan potensi kontaminasi cereulide pada bahan baku AA oil.
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengawasi proses penarikan ini, dengan nomor bets yang terdampak: 51530017C2 dan 51540017A1. Meski belum ada laporan kasus keracunan di RI, langkah ini diambil sebagai pencegahan.
Penarikan ini dipicu temuan di pabrik Nestle di Prancis, dan menjadi recall terbesar Nestle sejak skandal kontaminasi bakteri tahun 2022.
3. Danone Ikut Tarik Aptamil di Inggris
Tak lama setelah Nestle, Danone juga menarik satu batch susu formula Aptamil di Inggris karena dugaan kontaminasi cereulide yang sama. BPOM memastikan produk Aptamil yang ditarik ini tidak terdaftar dan tidak beredar di Indonesia, sehingga aman bagi konsumen lokal.
Kasus ini menyoroti rantai pasok global, di mana bahan baku dari pemasok yang sama (seperti AA oil) bisa memengaruhi multiple brand, menyebabkan recall berantai.
4. Dampak Ekonomi: Saham Nestle dan Danone Anjlok
Pengumuman recall langsung memukul harga saham kedua perusahaan. Saham Nestle turun hingga 5% di bursa Swiss, sementara Danone anjlok 4% di Paris. Total kerugian pasar mencapai miliaran dolar AS, mencerminkan sensitivitas investor terhadap isu keamanan produk bayi.
Ini bukan pertama kalinya; recall serupa tahun 2022 oleh Nestle di AS menyebabkan kekurangan susu formula nasional dan tuntutan hukum bernilai ratusan juta dolar.
5. Risiko Kesehatan dan Respons Regulator
Cereulide bisa menyebabkan keracunan makanan akut, dan ada laporan bayi meninggal dunia terkait kontaminasi serupa di luar negeri, meski belum dikonfirmasi langsung dengan kasus ini.
IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyarankan orang tua memeriksa nomor bets produk dan berkonsultasi dokter jika ada gejala. BPOM dan regulator global seperti Food Standards Agency UK menekankan pentingnya pencegahan, termasuk audit rutin bahan baku.
Cereulide sering disebut “toksin nasi goreng” karena umum di makanan Asia, tapi penemuannya di susu formula menunjukkan risiko di produk olahan modern.