WASHINGTON DC, AS -Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Washington mampu mengambil alih Kuba dalam waktu singkat, disertai ancaman pengerahan kekuatan militer di wilayah tersebut.
Dalam sebuah acara yang digelar di Florida pada Jumat (1/5), Trump secara terbuka menyampaikan rencana agresif terhadap Kuba. Ia menilai negara pulau di kawasan Karibia itu tengah menghadapi berbagai persoalan internal, sehingga dinilai rentan terhadap tekanan dari Amerika Serikat.
βKuba akan kami ambil alih dalam waktu sangat cepat,β kata Trump, seraya mengeklaim bahwa βrakyat Kuba menghadapi berbagai masalah.β
Pernyataan tersebut juga disertai sinyal penggunaan kekuatan militer. Trump menyebut kemungkinan pengerahan armada laut AS, termasuk kapal induk, sebagai bentuk tekanan langsung terhadap pemerintah Kuba.
Ia mengaitkan langkah tersebut dengan dinamika militer AS di kawasan lain, khususnya pasca konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran. Menurutnya, kapal perang yang kembali dari operasi di kawasan Timur Tengah dapat langsung dialihkan menuju perairan dekat Kuba.
βDalam perjalanan pulang dari Iran, kami akan mengerahkan salah satu kapal besar kami, mungkin kapal induk USS Abraham Lincoln, yang terbesar di dunia, kami akan membuatnya datang dan berhenti sekitar 100 yard dari lepas pantai,β ujarnya.
Trump bahkan meyakini bahwa kehadiran militer AS di dekat wilayah Kuba akan cukup untuk memaksa negara tersebut menyerah tanpa perlawanan berarti.
βMereka akan berkata βterima kasih banyak. Kami menyerah,ββ ucapnya, menambahkan, βSaya suka menyelesaikan pekerjaan.β
Di hari yang sama, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang memperketat sanksi terhadap individu maupun entitas yang memiliki keterkaitan dengan Kuba. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari upaya melindungi kepentingan keamanan nasional serta arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Sepanjang pernyataannya, Trump berulang kali menegaskan bahwa Kuba menjadi target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran. Ia bahkan memprediksi negara tersebut akan mengalami kegagalan dalam waktu dekat di bawah tekanan yang diberikan Washington.
Langkah dan retorika keras ini berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Karibia, sekaligus memicu perhatian internasional terhadap arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat ke depan.
Β