JAKARTA – Sejumlah laporan dan pemantau konsumen di Eropa menuding kurma asal Israel dipasarkan dengan label berbeda untuk menyamarkan negara asal, sehingga tetap menembus pasar Uni Eropa di tengah meningkatnya seruan boikot dari konsumen Muslim.
Klaim ini muncul seiring pesatnya perdagangan kurma global dan kompleksitas rantai pasok yang dinilai menyulitkan pelacakan asal produk. Nilai pasar kurma dunia diperkirakan mencapai 32,7 miliar dolar AS pada 2025, naik menjadi 34,5 miliar dolar AS pada 2026, dan berpotensi menembus 55,58 miliar dolar AS pada 2034. Kawasan Timur Tengah dan Afrika masih mendominasi dengan kontribusi lebih dari 85 persen produksi global.
Dilansir dari Anadolu, Sabtu (21/2/2026), meski tertinggal dari Mesir dan Arab Saudi dalam volume produksi, Israel disebut memainkan peran penting dalam perdagangan kurma premium, khususnya jenis Medjool. Namun, perbedaan antara angka produksi dan ekspor memunculkan pertanyaan soal keterlacakan pasokan.
Kurma Isral dalam Kemasan Ulang
Sejumlah laporan menyebut kurma dari Israel maupun permukiman ilegal di Tepi Barat diduga dipasarkan melalui negara ketiga atau jalur logistik tidak langsung. Produk tersebut dituding dikirim ke Eropa lewat pengemasan ulang di zona perdagangan bebas atau menggunakan negara perantara sehingga label asal produksi dapat berubah.
Menurut data Bank Dunia, sekitar setengah kurma di Belanda dan lebih dari sepertiga di Prancis disebut berasal dari Israel. Kedua negara itu juga mengekspor kurma senilai sekitar 150 juta dolar AS pada 2024, dan dinilai menjadi pusat pengemasan serta distribusi ulang ke negara-negara Uni Eropa lain, termasuk Jerman. Di Jerman, pangsa kurma yang diduga terkait Israel diperkirakan mencapai 25 persen dari total pasokan.
Kurma Medjool menjadi sorotan utama. Basis data perdagangan CBI mencatat sekitar 50 persen Medjool yang masuk ke Eropa berasal dari Israel, sementara publikasi perdagangan pangan internasional memperkirakan angkanya bisa mencapai 75 persen. Kritik juga diarahkan pada dugaan bahwa sebagian pasokan berasal dari permukiman Israel di Tepi Barat dengan label yang tidak mencantumkan asal sebenarnya.
Israel dilaporkan mengekspor sekitar 35 ribu ton kurma per tahun, namun hanya sebagian kecil diproduksi di wilayah Israel sendiri. Majalah pertanian Lahaklai menyebut produksi di Lembah Arava hanya sekitar 8.800 ton per tahun, sehingga sisanya diduga berasal dari perkebunan di permukiman Tepi Barat. Praktik ini oleh sejumlah pihak disebut sebagai “pencucian kurma”, yakni pemasaran produk permukiman dengan label negara lain seperti Belanda, Maroko, Uni Emirat Arab, atau Palestina.
Uni Eropa memiliki aturan khusus terkait pelabelan produk permukiman. Putusan Mahkamah Eropa pada 2019 menegaskan produk dari permukiman Israel tidak cukup hanya diberi label “produk Israel”, tetapi harus mencantumkan asal permukiman secara jelas agar konsumen tidak tertipu.
Di sisi lain, meningkatnya boikot konsumen di Eropa turut memengaruhi sektor ritel. Co-op Group di Inggris baru-baru ini menghentikan pasokan produk dari 17 negara, termasuk Israel, menyusul tekanan anggota dan isu pelanggaran hak asasi manusia.
Sementara itu, sejumlah perusahaan Palestina dan internasional yang dikaitkan dengan tuduhan tersebut membantah klaim “pencucian kurma” dan menegaskan rantai pasok mereka telah melalui proses sertifikasi serta audit.