Memasuki Ramadan 2026, kurma kembali menjadi primadona di meja berbuka. Namun, tahun ini suasana pasar terasa berbeda. Meningkatnya solidaritas global terhadap Palestina memicu gelombang selektivitas konsumen. Di tengah tren ini, sebuah laporan mengejutkan muncul dari Eropa mengenai praktik “pencucian kurma” yang bertujuan mengelabui pembeli.
Modus Ganti Label di Benua Biru
Sejumlah pemantau konsumen di Uni Eropa mengungkapkan adanya taktik licik untuk menutupi jejak asal kurma Israel. Produk-produk tersebut diduga tidak langsung dikirim ke negara tujuan, melainkan mampir ke zona perdagangan bebas atau negara ketiga untuk dikemas ulang (repacking).
Setelah berganti baju, kurma-kurma ini dipasarkan dengan label negara lain seperti Belanda, Maroko, Uni Emirat Arab, atau bahkan mengeklaim berasal dari Palestina. Data Bank Dunia mencatat bahwa Belanda dan Prancis menjadi pusat distribusi utama, di mana sekitar 150 juta dolar AS nilai ekspor kurma mereka pada 2024 disinyalir berkaitan erat dengan pasokan dari Israel.
Misteri Selisih Produksi di Lembah Arava
Israel dikenal sebagai pemain besar di segmen premium, khususnya jenis Medjool. Namun, ada angka yang mencurigakan: Israel mengekspor sekitar 35.000 ton kurma per tahun, padahal produksi resmi di wilayah Lembah Arava hanya sekitar 8.800 ton.
Selisih besar ini memperkuat dugaan para ahli bahwa sebagian besar kurma yang diekspor sebenarnya berasal dari perkebunan ilegal di wilayah pemukiman Tepi Barat yang disengketakan.
Berdasarkan data Anadolu Ajansı, pasar kurma dunia memang sangat menggiurkan. Nilainya diprediksi menyentuh 34,5 miliar dolar AS tahun ini dan akan terus meroket hingga 55,58 miliar dolar AS pada 2034. Meskipun Timur Tengah dan Afrika menguasai 85% pasar, perebutan segmen premium membuat persaingan label menjadi medan tempur baru bagi para eksportir.
Cara Cerdas Memilih Kurma: Jangan Tertipu Kemasan
Agar ibadah Ramadan Anda tetap tenang dan sesuai hati nurani, organisasi Boycott, Divestment, Sanction (BDS) memberikan panduan praktis untuk mengenali produk asal Israel:
-
Cek Barcode: Hindari produk dengan angka awalan 729. Itu adalah kode negara untuk Israel.
-
Waspadai Nama Eksportir: Perhatikan nama perusahaan seperti Hadiklaim, Mehadrin, Carmel Agrexco, dan Medjool Plus.
-
Teliti Jenis Medjool: Tidak semua Medjool berasal dari Israel, namun pastikan Anda memeriksa negara asalnya dengan teliti pada kemasan.
-
Identitas Anonim: Waspadalah jika kemasan tidak mencantumkan informasi produsen atau negara asal yang jelas.
-
Harga Tak Wajar: Jangan tergiur dengan harga yang jauh lebih murah di bawah rata-rata pasar tanpa alasan yang jelas.
Hingga saat ini, belum ada data resmi mengenai pola distribusi serupa di Indonesia. Namun, sikap waspada dan selektif menjadi kunci bagi konsumen yang ingin memastikan produk yang mereka konsumsi sejalan dengan nilai kemanusiaan.