Di tengah riuhnya isu kesepakatan dagang antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengeluarkan pernyataan tegas. Ia menjamin bahwa meja makan rakyat Indonesia tidak akan dimasuki beras maupun ayam impor.
“Nggak ada kita impor ayam sama beras. Beras kita sudah surplus 1,2 juta ton. Tahun ini produksi kita akan jauh lebih tinggi lagi,” tegas Zulhas saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (26/2/2026).
Menjawab Teka-teki Perjanjian Washington
Pernyataan ini merupakan respons langsung atas kegaduhan perjanjian The Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani di Washington DC pada 19 Februari lalu. Kabar yang beredar menyebut Indonesia berkomitmen mengalokasikan impor 1.000 ton beras khusus dan 580.000 ekor ayam hidup dari Amerika Serikat.
Pihak Kemenko Perekonomian melalui Haryo Limanseto mencoba meluruskan:
-
Beras Khusus: Alokasi 1.000 ton hanyalah 0,00003% dari total produksi nasional dan sifatnya “bergantung pada permintaan”.
-
Ayam Hidup (Grand Parent Stock): Impor senilai US$20 juta ini merupakan kebutuhan vital industri karena Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan mandiri untuk bibit ayam unggul.
Meski begitu, pengamat pertanian memperingatkan agar pemerintah tetap waspada. Impor bibit ayam yang berlebihan dikhawatirkan bisa memicu banjir pasokan yang justru akan memukul harga di tingkat peternak kecil.
Dari Importir Jadi Eksportir: Lompatan 2026
Zulhas justru membawa kabar bangga yang membalikkan narasi impor. Setelah sebelumnya Indonesia mengimpor 4,5 juta ton beras pada 2024, di tahun 2025 angka tersebut ditekan hingga nol persen seiring meroketnya produksi nasional menjadi 34,77 juta ton.
Bukannya mendatangkan beras, Indonesia justru bersiap mengirimkan beras premium ke luar negeri.
“Ekspor perdana 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi akan berangkat dari Tanjung Priok pada 28 Februari besok,” ungkap Zulhas.
Ekspor untuk kebutuhan jemaah haji ini diprediksi menyumbang devisa hingga Rp150 miliar. Dengan surplus stok dalam negeri yang melimpah, Kemenko Pangan bahkan telah menolak mentah-mentah usulan impor beras industri sebesar 380 ribu ton untuk tahun 2026.
Kini, pemerintah berfokus membuktikan bahwa janji swasembada bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang siap bersaing di pasar global.