TEHERAN, IRAN – Rusia mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel agar tidak berani menyerang fasilitas nuklir Iran. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah Moskow mengevakuasi puluhan warganya dari Iran.
CEO Rosatom, Alexei Likhachev, dengan tegas menyatakan bahwa instalasi nuklir merupakan garis merah yang tidak boleh dilanggar dalam konflik bersenjata. Pernyataan ini merespons ancaman serangan dari AS dan Israel terhadap target-target di Iran.
“Fasilitas nuklir tidak boleh menjadi target dalam kondisi apa pun,” ujar Likhachev kepada Aljazeera, Sabtu (28/2/2026).
Meski Rusia telah mengevakuasi 94 orang dari Iran, termasuk anak-anak karyawan dan staf non-esensial, personel inti Rosatom tetap bertahan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr. Langkah ini menunjukkan komitmen Moskow untuk terus mengoperasikan fasilitas strategis tersebut di tengah ancaman perang.
PLTN Bushehr menjadi pusat perhatian karena merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir operasional milik Iran yang dibangun oleh Rusia. Fasilitas ini menjadi simbol kerja sama energi nuklir sipil kedua negara sekaligus aset strategis yang ingin dilindungi Moskow dari serangan militer.
Evakuasi warga Rusia dilakukan menyusul eskalasi ancaman Israel dan AS terhadap Iran. Namun, Likhachev menegaskan bahwa keputusan ini tidak berarti Rusia akan meninggalkan proyek nuklirnya di Iran.
“Kami terus memantau situasi dan menilai risiko yang ada. Jika diperlukan, langkah-langkah tambahan akan diambil bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan keselamatan karyawan kami,” jelasnya.
Peringatan keras Rusia ini menambah ketegangan diplomatik di kawasan. Moskow tampaknya ingin memastikan bahwa konflik antara Israel, AS, dan Iran tidak meluas hingga menyeret instalasi nuklir yang dibangunnya.
Hingga berita ini diturunkan, Rosatom belum merinci situasi terkini di sekitar PLTN Bushehr. Namun, perusahaan memastikan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Rusia untuk mengantisipasi setiap kemungkinan terburuk.