JAKARTA — Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons eskalasi konflik Iran–AS-Israel dengan menawarkan diri sebagai mediator.
Menurut Menteri Luar Negeri RI Sugiono, pihak sudah menjalin komunikasi langsung dengan Amerika Serikat dan Iran guna membuka peluang perundingan damai.
Langkah diplomatik ini ditegaskan sebagai bagian dari inisiatif Presiden untuk mendorong deeskalasi konflik Timur Tengah, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mengedepankan dialog dalam penyelesaian sengketa internasional.
Di tengah memanasnya situasi kawasan pascaserangan militer yang melibatkan Israel, Washington, dan Teheran, Indonesia menyatakan kesiapan aktif untuk menjembatani perbedaan demi mencegah konflik meluas.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan komunikasi telah dilakukan dengan kedua pihak yang berkonflik dan Indonesia kini menunggu respons lanjutan dari masing-masing negara.
“Saya berkomunikasi dengan kedua belah pihak, pihak AS dan pihak Iran. Kita tunggu bagaimana nanti, karena dia mengatakan akan lihat situasinya beberapa hari dan beberapa minggu ke depan,” ujar Sugiono di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa malam (3/3).
Sugiono juga mengonfirmasi telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, guna menyampaikan secara langsung niat Indonesia untuk membantu meredakan ketegangan.
“Yang pasti kami menyampaikan lagi keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut. Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau (Araghchi) terima,” imbuh Sugiono.
Menurut Sugiono, pendekatan diplomasi tetap menjadi instrumen paling efektif untuk menurunkan eskalasi, meskipun realisasi mediasi sangat bergantung pada kesediaan seluruh pihak untuk difasilitasi.
“Yang pasti Indonesia ingin ada dalam posisi bahwa bagaimana kita bisa menjadi jembatan perbedaan, menawarkan kesiapan kita, menawarkan diri kita,”
Kementerian Luar Negeri sebelumnya juga menyatakan kesiapan Presiden untuk melakukan kunjungan langsung ke Teheran apabila kedua belah pihak menyetujui mediasi tersebut.
“Dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri, Sabtu pekan lalu.
Eskalasi konflik bermula setelah serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada Sabtu pekan lalu, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia menyayangkan gagalnya jalur perundingan sebelumnya antara Washington dan Teheran yang justru berujung pada konfrontasi militer terbuka.
Selain menawarkan mediasi, Indonesia juga kembali menegaskan prinsip penghormatan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan setiap negara sebagai fondasi hubungan internasional.
Di tengah dinamika diplomatik tersebut, keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di kawasan terdampak ditegaskan sebagai prioritas utama pemerintah, sembari jalur komunikasi dengan seluruh pihak terus dijaga.
Sikap Tegas Indonesia dalam Konflik Iran vs AS-Israel
Indonesia menempatkan diri sebagai kekuatan penyeimbang dengan tetap menjalankan diplomasi aktif sambil memperkuat langkah perlindungan terhadap WNI di kawasan konflik.
Sugiono menegaskan bahwa komunikasi dengan pihak Iran juga menjadi ruang klarifikasi atas perkembangan situasi terbaru, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia terhadap penyelesaian damai.
“Yang pasti kami menyampaikan lagi keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut,” ucap Sugiono.
Pemerintah berharap seluruh pihak kembali ke meja perundingan guna mencegah dampak lebih luas terhadap stabilitas kawasan dan keamanan global.***