TEHERAN — Korban jiwa akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terus bertambah. Otoritas Teheran mencatat sedikitnya 867 orang tewas sejak operasi militer gabungan kedua negara dimulai pada Sabtu (28/2) waktu setempat.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menyebutkan ribuan orang lainnya turut menjadi korban luka-luka akibat rentetan pengeboman tersebut.
“Dari 5.946 korban luka, sebanyak 2.184 orang masih menerima perawatan di berbagai rumah sakit,” kata Kermanpour dalam pernyataan yang dikutip kantor berita ILNA pada Rabu (4/3) waktu setempat.
Serangan AS dan Israel itu juga merenggut nyawa sejumlah tokoh penting Teheran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Tidak tinggal diam, Iran melancarkan serangan balasan dengan menghujani target-target di Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk menggunakan rudal dan drone. Teheran mengklaim setidaknya 560 tentara AS tewas dan luka-luka akibat serangan pembalasan itu. Namun, hingga kini AS hanya mengonfirmasi enam tentaranya tewas dan sejumlah personel lain mengalami luka-luka.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, melaporkan bahwa pasukan AS-Israel telah menyerang hampir 2.000 target di berbagai wilayah Iran menggunakan lebih dari 2.000 amunisi sejak operasi dimulai.
Menurut laporan CENTCOM, Iran merespons dengan serangan balasan berskala besar, yakni meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan mengerahkan lebih dari 2.000 drone.