JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat belum menyalurkan dana sebesar $625 juta yang dialokasikan untuk mendukung keamanan Piala Dunia 2026 mendatang. Penundaan ini memicu kekhawatiran di kota-kota tuan rumah terkait kesiapan mereka menyambut ajang internasional tersebut.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) sebelumnya berencana mendistribusikan dana paling lambat 30 Januari. Namun, hingga kini belum terealisasi. Anggota Komite Keamanan Dalam Negeri DPR, Rep. Nellie Pou (D-N.J.), menilai keterlambatan itu sarat muatan politik.
“Saya tidak ragu sama sekali bahwa mereka menggunakan hal ini untuk alasan politik,” kata Pou kepada Front Office Sports yang dilansir Reuters, Kamis (5/3/2026). Ia menambahkan bahwa motif pemerintahan Trump adalah “100%” politik.
Pou mewakili distrik yang mencakup MetLife Stadium di East Rutherford, N.J., lokasi delapan pertandingan termasuk final pada 19 Juli. Ia juga menuding Menteri DHS Kristi Noem sengaja menahan dana dengan alasan kebuntuan anggaran. “Itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.
Noem dalam pernyataan pekan lalu menyebut penundaan terjadi karena penutupan pemerintahan oleh Demokrat yang membuat sebagian besar staf FEMA cuti. “Demokrat harus mengakhiri penutupan ini sekarang dan membiarkan DHS kembali ke misi kami melindungi Tanah Air,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disuarakan daerah lain. COO komite tuan rumah Miami, Raymond Martinez, menegaskan hibah $70 juta harus cair dalam 30 hari ke depan. “Tanpa menerima dana ini, hal itu bisa menjadi bencana bagi perencanaan dan koordinasi kami,” katanya.
Wakil Kepala Polisi Kansas City, Joseph Mabin, menambahkan: “Pendanaan tersebut akan sangat penting bagi staf kami dan mitra bantuan bersama untuk datang membantu. Kami hanya tidak memiliki cukup petugas di departemen saya sendiri untuk menutupi semua ancaman.”