Alih-alih merayakan kecanggihan teknologi, sesi kualifikasi F1 di Albert Park justru menjadi panggung kemarahan massal. Juara dunia bertahan, Lando Norris, tidak segan-segan menyebut mobil F1 2026 sebagai “mobil terburuk yang pernah dibuat” dalam sejarah olahraga ini.
“Kita beralih dari mobil tercepat dan paling menyenangkan di dunia menjadi sesuatu yang menyebalkan,” ujar Norris penuh frustrasi setelah hanya mampu mengamankan posisi keenam.
Mengapa Pembalap Begitu Murka?
Inti dari kekacauan ini terletak pada unit tenaga hibrida baru yang membagi output tenaga secara 50-50 antara mesin V6 dan motor listrik yang diperbesar. Tanpa adanya MGU-H dan peningkatan drastis pada MGU-K, pembalap dipaksa melakukan teknik yang sangat tidak intuitif:
-
Manajemen Energi yang Gila: Pembalap harus mengangkat kaki dari pedal gas di lintasan lurus (super clipping) hanya untuk mengisi daya baterai.
-
Fokus Terpecah: Mereka harus memantau layar dashboard setiap tiga detik untuk mengatur aliran tenaga. Jika lengah sedikit saja, risiko kecelakaan meningkat drastis.
-
Instabilitas Tenaga: Lonjakan tenaga listrik yang tidak terprediksi membuat mobil sulit dikendalikan. Oscar Piastri bahkan mengalami kecelakaan karena lonjakan daya mendadak sebesar 100 kilowatt yang tidak bisa ia kontrol.
Sirkuit Terburuk atau Regulasi Gagal?
Meskipun George Russell merasa sasis baru lebih lincah—bahkan membandingkan mobil lama 2025 dengan “bus yang terloncat-loncat”—ia pun mengakui bahwa Melbourne adalah neraka bagi sistem energi baru ini. Kurangnya zona pengereman berat membuat pemulihan energi (harvesting) menjadi sangat sulit dilakukan.
Andrea Stella, Team Principal McLaren, menyebut situasi ini “sangat dramatis”. Ia menekankan bahwa mengelola energi dengan cara ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pembalap sepanjang karier mereka. “Mereka bukan lagi pembalap, tapi operator sistem energi,” keluh seorang pengamat.
Tekanan untuk FIA
FIA kini terpojok. Meskipun mereka menjanjikan tinjauan regulasi setelah enam bulan, suara-suara di dalam paddock menuntut tindakan yang jauh lebih cepat. Dengan Max Verstappen yang sudah memimpin aksi protes sejak hari Jumat dan para pembalap papan atas lainnya yang bersatu dalam ketidakpuasan, F1 kini berada di ambang krisis identitas teknis.
Jika regulasi ini tidak segera diperbaiki, era baru F1 2026 bukan hanya akan mengecewakan penonton karena kurangnya aksi menyalip, tetapi juga membahayakan nyawa para pembalap yang kini lebih sibuk menatap layar daripada menatap tikungan.