Bayang-bayang krisis energi paling signifikan sejak era 1970-an kini nyata menghantam Asia. Pada 8 Maret 2026, Bangladesh resmi bergabung dalam daftar panjang negara yang memberlakukan penjatahan bahan bakar (BBM) setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran melumpuhkan Selat Hormuz—jalur nadi energi dunia.
Krisis yang baru memasuki minggu kedua ini telah memakan korban jiwa. Di distrik Jhenaidah, seorang pria tewas dalam kerusuhan di sebuah SPBU akibat perselisihan jatah bahan bakar, memicu ketegangan massal yang menggarisbawahi betapa rapuhnya stabilitas sosial saat energi mulai langka.
Bangladesh: Berhitung Hari Menuju Gelap
Sistem penjatahan ketat kini diberlakukan oleh Bangladesh Petroleum Corporation. Sepeda motor dibatasi maksimal 2 liter per hari, mobil pribadi 10 liter, dan truk logistik 200–220 liter. Kondisi ini sangat kritis mengingat Bangladesh mengandalkan 95% kebutuhan energinya dari impor.
Saat ini, stok solar dilaporkan hanya cukup untuk 7 hari, sementara cadangan oktan tersisa untuk 15 hari. Dampaknya, lima dari enam pabrik pupuk nasional terpaksa berhenti beroperasi demi menghemat energi.
Efek Domino di Kawasan Asia
Penutupan Selat Hormuz, yang biasanya dilewati 20% pasokan minyak dunia, memicu reaksi darurat di berbagai negara:
-
Thailand: Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengeluarkan perintah darurat yang melarang total ekspor bensin, diesel, hingga bahan bakar jet untuk mengamankan stok dalam negeri.
-
Filipina: Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan pemangkasan hari kerja pemerintah menjadi 4 hari mulai 9 Maret guna menekan konsumsi listrik dan BBM hingga 20%. Filipina dinilai sebagai salah satu negara paling rentan terhadap inflasi akibat konflik ini.
-
Myanmar: Pasokan BBM di wilayah perbatasan mengering, memaksa penduduk menyeberang ke Thailand hanya untuk mengisi tangki kendaraan mereka.
-
Pakistan: Pemerintah tengah mempertimbangkan kebijakan wajib bekerja dari rumah (WFH) dan meminta Arab Saudi mengalihkan rute minyak melalui Laut Merah.
Gema Embargo Minyak 1970
Ketegangan bermula sejak serangan militer ke Iran pada akhir Februari yang memicu Teheran menutup akses Selat Hormuz dengan armada drone. China pun telah memerintahkan kilang-kilang terbesarnya menghentikan ekspor bahan bakar demi prioritas domestik.
“Kita sekarang dihadapkan pada krisis energi paling signifikan sejak embargo minyak tahun 1970-an,” ujar Helima Croft, kepala strategi di RBC Capital Markets. Situasi ini memaksa para pemimpin Asia untuk memutar otak demi mencegah ekonomi mereka jatuh ke dalam jurang resesi akibat kelangkaan energi yang kian mencekik.