Carlos Sainz melontarkan kritik keras dengan menyebut bahwa Formula 1 sedang “berusaha keras menjual sesuatu yang kita semua tahu itu salah.” Pembalap Williams ini menyoroti dugaan manipulasi grafik pada siaran global (world feed) di GP China untuk menutupi kekurangan regulasi baru.
Regulasi mesin F1 2026 terus menuai respons beragam. Nama-nama besar seperti Carlos Sainz, Max Verstappen, dan Lando Norris menjadi kritikus yang paling vokal.
Keluhan utama tertuju pada mesin baru yang mulai kehilangan tenaga secara drastis di bagian sirkuit tertentu ketika daya baterai habis sepenuhnya—fenomena yang kini dijuluki sebagai ‘superclipping’.
Selama akhir pekan GP China, beredar tangkapan layar yang diduga menunjukkan bahwa siaran resmi F1 sengaja memanipulasi grafik onboard untuk menyamarkan penurunan kecepatan tersebut.
Hal ini memperparah kecurigaan publik setelah sebelumnya administrator akun resmi F1 dituduh menghapus komentar negatif netizen terkait sulitnya melakukan aksi salip-menyalip.
“Bukan Formula yang Tepat”
Sainz menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah bukti bahwa petinggi F1 sadar ada yang salah dengan regulasi saat ini.
“Saya pikir di trek seperti China dampaknya tidak terlalu buruk karena kita punya banyak cadangan energi. Mesinnya berperilaku sangat berbeda dari tahun lalu, tapi tidak seburuk saat di Melbourne,” ujar Sainz pada Minggu (16/3/2026).
“Namun, untuk sirkuit seperti Melbourne, Monza, dan Spa, regulasi ini benar-benar perlu dipikirkan ulang. Saya yakin 100% ini bukan F1 yang ingin saya saksikan, dan saya yakin orang-orang di posisi atas juga mengetahui hal itu.”
Sainz menambahkan, “Saat Anda melihat apa yang mereka lakukan dengan grafik dan segalanya, mereka hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk ‘menjual’ sesuatu yang kita semua tahu bukan formula yang tepat untuk Formula 1.”
Badai Gagal Start di China: “Citra Buruk Bagi F1”
Selain masalah performa, Sainz yang finis di posisi kesembilan juga mengkritik banyaknya pembalap yang gagal start (non-starter). Tercatat duo McLaren, rekan setimnya Alex Albon, serta Gabriel Bortoleto dari Audi tidak bisa memulai balapan karena masalah teknis.
Menurutnya, kerumitan regulasi power unit (PU) yang melibatkan perangkat lunak dan baterai super kompleks membuat tingkat reliabilitas menjadi sangat rendah.
“Tentu saja, ini bukan pemandangan yang bagus bagi F1. Kehilangan dua McLaren, satu Williams, dan satu Audi menunjukkan betapa kita mempersulit hidup sendiri dengan menciptakan mesin yang super rumit,” tegasnya.
“Saya memiliki gambaran seperti apa seharusnya Formula 1 yang ideal, dan apa yang terjadi saat ini sangat jauh dari itu. Saya hanya berharap pengembangan dan penyesuaian regulasi bisa membuat segalanya lebih baik di masa depan.”
Fakta Tambahan
Data menunjukkan bahwa pada era mesin 2026 ini, ketergantungan pada energi listrik meningkat hingga 50%. Fenomena superclipping yang disinggung Sainz dilaporkan bisa membuat kecepatan mobil drop hingga 20-30 km/jam secara mendadak di lintasan lurus panjang jika manajemen energi tidak sempurna.
Inilah yang diduga coba “disembunyikan” dari mata penonton lewat manipulasi tampilan angka pada grafik TV.