JAKARTA – Keberhasilan Inter Milan meraih gelar Serie A ke-21 musim 2025/2026 menjadi bukti dominasi tim biru-hitam setelah menumbangkan Parma dengan skor 2-0, Minggu (3/5/2026) waktu setempat.
Kemenangan Inter Milan ini sekaligus mengakhiri ambisi juara bertahan Napoli saat kompetisi masih menyisakan tiga laga.
Musim perdana di bawah arahan pelatih Cristian Chivu sempat berjalan tidak mulus, namun perlahan berubah menjadi parade kemenangan berkat kontribusi signifikan sejumlah pemain kunci.
Sorotan utama tertuju pada kapten tim Lautaro Martinez yang kembali menunjukkan kelasnya sebagai mesin gol utama Inter.
Striker asal Argentina tersebut mengoleksi 16 gol di Serie A meski kerap diganggu cedera ringan sepanjang musim.
Produktivitasnya yang konsisten membuatnya rata-rata mencetak satu gol setiap dua pertandingan sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai ikon baru klub.
Martinez bahkan melampaui catatan legenda seperti Sandro Mazzola dan Roberto Boninsegna dengan total 173 gol, menempatkannya di posisi ketiga top skor sepanjang masa Inter di bawah Giuseppe Meazza.
Di sisi sayap, peran Federico Dimarco tak kalah vital dengan kontribusi ofensif luar biasa dari posisi wing-back.
Dimarco mencetak enam gol dan mengukir 17 assist, menjadikannya bek dengan kontribusi gol terbanyak dalam satu musim sejak statistik tersebut dicatat pada 2004/2005.
Meski masih mendapat sorotan terkait kemampuan bertahan di level Eropa, kontribusi menyerangnya menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan Inter musim ini.
Di lini tengah, Hakan Calhanoglu kembali memainkan peran sentral sebagai pengatur tempo permainan.
Gelandang asal Turki itu membukukan sembilan gol dan empat assist hanya dari 22 penampilan, menegaskan pentingnya peran dirinya dalam skema permainan tim.
Performa impresifnya membuat Inter berupaya mempertahankannya di tengah ketertarikan klub Turki Galatasaray.
Sementara itu, kemunculan talenta muda Pio Esposito memberikan warna baru dalam skuad Inter musim ini.
Pemain berusia 20 tahun tersebut mencetak enam gol dari 31 laga, namun efektivitasnya terlihat dari rasio menit bermain yang setara hanya dengan 15 pertandingan penuh.
Esposito menjadi pelapis ideal bagi Martinez dan Marcus Thuram, sekaligus menghadirkan energi segar yang sebelumnya sempat hilang dalam skuad Inter musim lalu.
Kehadirannya bersama striker muda lain seperti Ange-Yoan Bonny membantu Inter menjaga konsistensi hingga akhir musim tanpa kehabisan tenaga.
“Kesuksesan ini adalah hasil kerja kolektif, namun para pemain kunci benar-benar membuat perbedaan di momen penting,” ujar salah satu staf pelatih Inter.***