TOKYO, JEPANG – Pemerintah Jepang secara resmi menolak permintaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz. Penolakan tegas ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam sidang parlemen.
Takaichi menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak memiliki rencana untuk mengirimkan aset militernya ke jalur perairan strategis di Timur Tengah tersebut.
“Belum ada keputusan sama sekali mengenai pengiriman kapal pengawal,” ujar Takaichi dalam rapat Komite Anggaran Majelis Tinggi, merespons desakan Washington.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihak legislatif Jepang belum pernah menerima komunikasi resmi dari pemerintah terkait permintaan Trump. Meski demikian, Takaichi memastikan pemerintahannya terus berdiskusi mengenai langkah optimal untuk melindungi kapal-kapal dagang Jepang yang melintasi kawasan rawan konflik tersebut, terlepas dari tekanan AS.
Sikap serupa disampaikan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi keamanan regional saat ini, Tokyo tidak berencana mengirimkan kapal perang.
“Tidak ada rencana pengerahan kapal perang ke Selat Hormuz,” kata Koizumi singkat.
Sebelumnya, Trump secara terbuka meminta Jepang dan sejumlah negara sekutu lainnya untuk turut serta mengirimkan kapal perang guna membantu AS mengamankan Selat Hormuz. Washington ingin memastikan jalur vital perdagangan minyak tersebut aman dari gangguan, terutama setelah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Trump bahkan sempat melontarkan ancaman terselubung, menyatakan akan “mengingat” negara-negara sekutu yang tidak berkontribusi dalam misi pengamanan selat tersebut.
Bagi Jepang, isu ini sangat krusial. Negara tersebut mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan minyak mentahnya dari negara-negara Teluk yang harus melewati Selat Hormuz. Stabilitas jalur laut ini menjadi nyawa bagi perekonomian Jepang, sehingga keputusan untuk terlibat dalam operasi militer asing di kawasan tersebut diambil dengan sangat hati-hati.