KYIV, UKRAINA – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan negaranya siap memasok 1.000 unit drone pencegat setiap harinya kepada negara-negara di kawasan Teluk yang menjadi sasaran serangan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya Kyiv memperluas peran globalnya sebagai mitra pertahanan, khususnya dalam menghadapi ancaman pesawat nirawak (UAV).
Dalam pidatonya di hadapan parlemen Inggris pada Selasa (5/3) waktu setempat, Zelenskyy mengungkapkan bahwa kapasitas produksi drone pertahanan Ukraina kini mencapai 2.000 unit per hari.
Dari jumlah tersebut, separuhnya dapat dialokasikan untuk sekutu guna memperkuat sistem pertahanan udara mereka. Langkah ini dinilai strategis karena biaya operasional drone pencegat jauh lebih rendah dibandingkan rudal antiserangan kelas atas.
“Tim kami sudah berada di Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan sedang dalam perjalanan ke Kuwait,” ujar Zelenskyy.
Ia menjelaskan bahwa personel yang dikirim merupakan pakar militer anti-drone yang memiliki pengalaman langsung menangkal serangan Shahed. “Mereka adalah para ahli militer, para ahli yang tahu bagaimana membantu, bagaimana mempertahankan diri dari drone Shahed,” tegasnya dalam forum yang sama.
Saat ini, tercatat 201 pakar anti-drone asal Ukraina telah berada di Timur Tengah untuk membantu mitigasi serangan, dengan 34 personel tambahan dalam status siaga penempatan. Kehadiran mereka dinilai krusial mengingat Iran gencar menggunakan drone Shahed-136 yang juga dipakai Rusia dalam agresinya ke Ukraina.
Ukraina sendiri telah melalui tiga tahun pengalaman tempur mempertahankan ibu kota Kyiv dari gempuran drone Geran (versi Rusia dari Shahed). Salah satu andalan mereka adalah rudal pencegat buatan dalam negeri bernama Sting. Rudal seharga USD 2.100 ini dibanderol jauh di bawah rudal Patriot PAC-3 yang mencapai USD 3,5 juta per unit.
Sting dirancang dengan proyektil quadcopter berbentuk peluru hasil pencetakan 3D. Mampu melesat hingga kecepatan 340 km/jam di ketinggian 3.000 meter, rudal ini mengandalkan pencitraan termal untuk mendeteksi dan menghancurkan sasaran. Dengan hulu ledak seberat 1,8 kg, Sting dapat menukik dan mensterilkan ancaman dalam radius 25 km.
Presiden Ukraina menegaskan bahwa inovasi semacam itu terbukti efektif, dengan tingkat keberhasilan mencapai 70 persen dalam menembak jatuh drone tipe Shahed yang diluncurkan ke kota-kota Ukraina.
“Perkembangan besar ini akan memungkinkan negara-negara sahabat menangkis serangan harian dengan biaya yang lebih efisien,” kata Zelenskyy.
Sementara itu, di sela kunjungannya ke London, Zelenskyy bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Ia berterima kasih atas dukungan sekutu di tengah “musim dingin yang sulit” di Ukraina, di mana Rusia gencar menyerang infrastruktur energi esensial.
Menanggapi situasi global yang terpolarisasi, Starmer menekankan pentingnya solidaritas yang tidak terbagi. “Saya pikir sangat penting bagi kita untuk memperjelas bahwa fokus harus tetap pada Ukraina. Jelas ada konflik di Iran yang sedang berlangsung, di Timur Tengah, tetapi kita tidak boleh kehilangan fokus pada apa yang terjadi di Ukraina dan kebutuhan akan dukungan kita,” ujarnya usai pertemuan di Downing Street.
Zelenskyy juga menyempatkan diri bertemu Raja Charles III di Istana Buckingham. Dalam pertemuan 25 menit yang berlangsung santai dengan ditemani teh di ruang kerja pribadi raja, kedua tokoh membahas situasi geopolitik terkini.
Merespons perkembangan ini, pakar dari lembaga riset Rusi, Robert Tollast, memprediksi akan terjadi lonjakan investasi global pada sistem pertahanan udara jarak pendek.
“Kita akan memasuki periode investasi besar-besaran secara global, meskipun butuh waktu yang sangat lama bagi Eropa untuk menyadari ancaman ini,” katanya.
Tollast menambahkan bahwa dunia membutuhkan replikasi arsitektur anti-drone ala Ukraina, di mana koordinasi antara sensor, radar taktis, dan tim bergerak bersenjata menjadi kunci. “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” pungkasnya.



