JAKARTA – Menteri Luar Negeri Türkiye, Hakan Fidan, memperingatkan bahwa ketidakstabilan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu terbentuknya aliansi interrnasional yang lebih luas melawan Iran.
Ia menyebut diskusi yang dipimpin Amerika Serikat tengah berkembang mengenai kemungkinan pembentukan koalisi jika keamanan jalur perairan strategis itu semakin memburuk.
“Jika krisis ini berlarut-larut, koalisi yang jauh lebih luas yang melibatkan lebih banyak negara dapat muncul di Hormuz,” kata Fidan dalam wawancara televisi, Jumat (27/3/2026), dilansir dari Hurriyet Daily News.
Fidan menegaskan bahwa gangguan di koridor energi global tersebut telah memengaruhi pasokan energi dan pangan, dengan harga yang melonjak di negara-negara Teluk. Ia menyebut rute logistik alternatif melalui Türkiye, Suriah, dan Irak mulai diaktifkan, sekaligus menyoroti pentingnya proyek konektivitas regional yang lama dipromosikan Ankara.
Pernyataan ini muncul setelah pertemuan G7 di Prancis, di mana para diplomat mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyerukan negara-negara pengguna jalur tersebut untuk menolak rencana Teheran mengenakan pungutan tol.
Fidan menambahkan bahwa Türkiye memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran melalui perantara, termasuk Pakistan. Namun, ia menekankan adanya defisit kepercayaan mendalam, terutama dari pihak Iran, akibat kegagalan diplomasi sebelumnya.
Menurutnya, tujuan utama Ankara adalah menghentikan perang, mencegah penyebaran konflik, dan menjaga agar Türkiye tidak terlibat langsung. Ia juga mengingatkan bahwa negara-negara Teluk telah menjadi sasaran lebih dari 8.000 rudal dan drone, sehingga menuntut sikap menahan diri untuk mencegah konfrontasi lebih luas.
“Hambatan terbesar bagi perdamaian adalah posisi Israel,” tegas Fidan, seraya menekankan bahwa solusi jangka panjang harus melibatkan semua pemangku kepentingan regional, termasuk Iran, Oman, dan negara-negara Teluk.
Fidan menutup dengan menegaskan ambisi Turki menjadi pusat energi regional melalui proyek jalur pipa masa depan di Irak dan Suriah, sembari memperingatkan bahwa waktu sangat krusial untuk mencegah eskalasi yang tidak dapat diubah.