JAKARTA – Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena El Nino dengan memperketat pengawasan harga pangan guna menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Langkah strategis ini ditegaskan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.
Kebijakan tersebut difokuskan pada pengendalian harga komoditas penting, terutama kedelai, di tengah tekanan pasokan global dan potensi gangguan produksi akibat cuaca ekstrem.
“Nanti kami kumpulkan para importir. Jangan menaikkan harga terlalu tinggi,” kata Menteri Amran sebelum mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/4).
Pemerintah juga meminta pelaku impor untuk mengedepankan kepentingan masyarakat dengan menjaga harga tetap stabil di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Upaya ini akan diperkuat melalui pemantauan ketat serta koordinasi intensif antara Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah agar distribusi dan harga pangan tetap terkendali.
Selain fokus pada harga, pemerintah memastikan stok pangan nasional berada dalam kondisi sangat aman, terutama untuk komoditas beras sebagai kebutuhan utama masyarakat.
“Posisinya sangat aman. Bukan sekadar aman, tetapi sangat aman. Selanjutnya, kita fokus pada langkah menghadapi El Nino,” ujar Amran.
Data terbaru menunjukkan cadangan beras nasional mencapai angka yang sangat tinggi dan menjadi rekor baru sepanjang sejarah.
“Alhamdulillah, stok beras kita mencapai 4,6 juta ton hari ini. Pada April, insya Allah bisa mencapai 5 juta ton. Ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Sebelumnya, pada April hanya sekitar 1,5 hingga maksimal 2 juta ton. Artinya, sekarang hampir tiga kali lipat dan patut kita syukuri,” jelasnya.
Pemerintah juga telah menghitung potensi kebutuhan dan ketersediaan pangan secara komprehensif untuk menghadapi musim kemarau panjang.
“Stok kita nanti sekitar 5 juta ton. Kemudian di sektor horeka (hotel, restoran, dan katering) terdapat sekitar 12,5 juta ton.”
“Selain itu, standing crop atau tanaman yang siap panen saat ini mencapai sekitar 11 juta ton. Totalnya sekitar 28 juta ton. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 10 hingga 11 bulan ke depan,” ungkapnya.
Dengan kalkulasi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan pangan nasional tetap terjaga meski El Nino diperkirakan berlangsung hingga enam bulan ke depan.
“Pada musim kemarau sekitar enam bulan, berdasarkan pengalaman saat El Nino, kebutuhan sekitar 2 juta ton per bulan atau total 12 juta ton.”
“Artinya, hingga sekitar Mei ke depan kita masih dalam kondisi cukup. Apalagi puncak panen terjadi pada Maret dan periode kering hanya enam bulan, sehingga kondisi tetap aman,” ujarnya.***