JAKARTA – Tren “puasa air” atau hanya minum tanpa makan kerap dikaitkan dengan detoks, penurunan berat badan, hingga alasan spiritual. Namun, para ahli menegaskan praktik ini berbahaya jika dilakukan dalam jangka panjang.
Dilansir dari berbagai sumber, tubuh manusia memang mampu beradaptasi, tetapi tetap memiliki batas. Tanpa makanan, tubuh mulai menggunakan cadangan energi hingga akhirnya mengurai otot dan melemahkan organ vital. Dalam kondisi ekstrem, risiko kematian meningkat.
Menurut kajian medis, seseorang bisa bertahan hidup dua hingga tiga bulan tanpa makan asalkan tetap minum air. Namun, faktor usia, jenis kelamin, berat badan, dan kondisi kesehatan sangat memengaruhi daya tahan tubuh. Anak-anak dan orang dengan tubuh kurus lebih rentan.
Proses kelaparan berlangsung bertahap:
- Hari pertama: tubuh menghabiskan simpanan glukosa.
- Hari ke-2–3: lemak diurai menjadi energi, tubuh mulai lemas.
- Hari ke-7: otot dipecah untuk sumber energi.
- Hari ke-14 dan seterusnya: organ vital melemah, sistem imun turun, risiko infeksi meningkat.
Air memang memperpanjang daya tahan, menjaga fungsi ginjal, suhu tubuh, dan transportasi nutrisi. Namun, hanya mengandalkan air tanpa asupan gizi tetap berujung pada malnutrisi, kerusakan organ, dan kematian.
Kesimpulannya, puasa air bukanlah metode diet yang aman. Air memang sumber kehidupan, tetapi makanan tetap bahan bakar utama tubuh.