Sebuah operasi kemanusiaan berskala besar yang melibatkan ratusan prajurit TNI di jantung hutan Kalimantan Barat akhirnya tuntas. Setelah melalui perjuangan dramatis selama 6,5 jam menembus medan geografis yang ekstrem, delapan korban jatuhnya helikopter PK-CFX di Kabupaten Sekadau berhasil dievakuasi seluruhnya.
Operasi terpadu ini mengerahkan kekuatan penuh dari Korem 121/Abw, Yonif TP 833/BD, Yonif 642/Kps, hingga Kodim 1204/Sanggau. Dukungan udara pun diperkuat dengan hadirnya helikopter Super Puma TNI AU untuk mempercepat mobilitas personel di wilayah yang nyaris mustahil dijangkau kendaraan darat.
Penemuan di Kegelapan Bukit Puntak
Titik terang pencarian muncul pada Kamis (16/4/2026) malam. Tim dari Yonif TP 833/BD di bawah komando Mayor Inf Ikhwan berhasil membelah hutan dan menemukan puing helikopter di wilayah perbukitan yang terisolasi.
Asops Kasdam XII/Tpr, Kolonel Inf Ahmad Daud Harahap, menegaskan bahwa pengerahan ratusan personel ini adalah perintah langsung Pangdam XII/Tpr untuk memastikan negara hadir dalam situasi darurat.
“Jajaran telah diarahkan untuk membantu pencarian secara maksimal. Ini adalah bukti komitmen kami dalam misi kemanusiaan,” tegas Kolonel Ahmad, Sabtu (18/4/2026).
Evakuasi Manual: Memikul Jenazah Lewat Tebing
Momen paling mengharukan sekaligus menantang terjadi pada Jumat (17/4) dini hari. Di tengah kegelapan Bukit Puntak, Dusun Gandis, prajurit TNI harus mengevakuasi delapan jenazah—terdiri dari dua kru dan enam penumpang—dengan cara dipikul secara manual.
Tanpa akses kendaraan, para prajurit bahu-membahu memikul kantong jenazah melewati jalan setapak yang licin, tanjakan terjal, dan rimbunnya hutan perbukitan selama berjam-jam menuju posko utama di Gereja Katolik Santo Yohanes.
Black Box Berhasil Diamankan
Tepat pukul 06.30 WIB, seluruh korban beserta barang pribadi dan Black Box (kotak hitam) helikopter tiba di posko dengan selamat. Delapan unit ambulans telah bersiaga untuk membawa para korban menuju RS Bhayangkara Pontianak guna proses identifikasi lebih lanjut.
Selesainya operasi ini menandai keberhasilan sinergi antara TNI, Basarnas, dan tim SAR gabungan dalam menghadapi tantangan alam Kalimantan yang ganas. Kolonel Ahmad memastikan TNI akan terus bersiap siaga dan memperkuat kerja sama lintas unsur demi memastikan keselamatan masyarakat dalam setiap misi darurat di masa depan.