JAKARTA – Keputusan besar datang dari Manchester City yang memastikan John Stones akan meninggalkan klub pada akhir musim setelah kontraknya habis.
Bek asal Inggris itu menjadi nama kedua yang dipastikan angkat kaki dari Etihad Stadium pada bursa musim panas ini setelah sebelumnya Bernardo Silva lebih dulu diumumkan pergi.
Perpisahan ini menandai akhir perjalanan panjang Stones bersama The Citizens yang telah berlangsung hampir satu dekade sejak direkrut dari Everton pada 2016.
Selama berseragam Manchester City, Stones menjelma sebagai salah satu pilar penting dalam era kejayaan klub di bawah asuhan Pep Guardiola.
Didatangkan dengan nilai transfer fantastis sebesar £50 juta yang kala itu menjadikannya bek termahal di Premier League, Stones membuktikan kualitasnya lewat kontribusi besar di berbagai kompetisi.
Ia turut mengantar City meraih enam gelar Premier League, dua Piala FA, tiga Piala Liga, hingga trofi Liga Champions yang menjadi pencapaian bersejarah klub.
Salah satu momen paling ikoniknya terjadi pada musim 2018–2019 saat ia melakukan sapuan krusial di garis gawang melawan Liverpool yang berpengaruh besar dalam perebutan gelar juara.
“Dia adalah salah satu bek terbaik yang pernah dimiliki Premier League,” ujar seorang pengamat sepak bola Inggris dalam sebuah pernyataan yang menggambarkan besarnya kontribusi Stones, dilansir Sports Illustrated.
Meski begitu, perjalanan kariernya di Manchester City tidak sepenuhnya mulus karena kerap diganggu cedera yang membatasi jumlah penampilannya setiap musim.
Dalam beberapa tahun terakhir, peran Stones mulai berkurang seiring meningkatnya persaingan di lini belakang dan kondisi fisik yang tidak selalu optimal.
Musim ini, cedera paha membuatnya absen cukup lama dan ketika kembali pun lebih sering menghuni bangku cadangan.
Situasi tersebut semakin diperkuat dengan munculnya pemain baru seperti Abdukodir Khusanov serta fleksibilitas Joško Gvardiol yang kini bisa bermain sebagai bek tengah.
Ditambah dengan kehadiran Rúben Dias dan Marc Guéhi, posisi Stones dalam hierarki pertahanan City semakin terpinggirkan.
Manajemen klub sendiri terlihat sudah mengantisipasi kepergian Stones dengan mendatangkan Guéhi lebih awal pada Januari lalu.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa regenerasi di lini belakang sudah mulai dijalankan secara serius oleh Manchester City.
Fokus transfer klub kini juga bergeser ke lini tengah menyusul kepergian Bernardo Silva dan keputusan untuk tidak memperpanjang kontrak Kevin De Bruyne.
Nama Enzo Fernández pun mulai dikaitkan sebagai target potensial untuk memperkuat sektor tersebut.
Sementara itu, masa depan John Stones kini menjadi perhatian karena statusnya sebagai pemain bebas transfer membuatnya diminati banyak klub Eropa.
Dengan gaya bermain yang mengandalkan teknik dan distribusi bola, kompetisi seperti La Liga, Serie A, atau Ligue 1 dinilai lebih cocok untuknya dibanding Premier League yang lebih mengandalkan fisik.
Bayern Munich disebut bisa menjadi salah satu tujuan potensial, terutama jika terjadi perubahan komposisi di lini belakang mereka.
Barcelona juga berpeluang memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan bek berpengalaman tanpa biaya transfer.
Bahkan Real Madrid bisa saja ikut mempertimbangkan Stones sebagai opsi murah untuk memperkuat pertahanan mereka.
Di Italia, Juventus dan AC Milan diyakini tertarik merekrut pemain berpengalaman dengan mental juara seperti Stones.
Sementara di Prancis, Lyon, Marseille, dan Monaco dapat menjadi destinasi alternatif yang menarik.
Namun jika Stones memilih bertahan di Inggris, Everton berpotensi menjadi pilihan emosional karena klub tersebut merupakan tempat awal kariernya berkembang.
Kembalinya David Moyes ke Everton juga membuka peluang reuni yang sarat cerita bagi sang pemain.
Kepergian John Stones tidak hanya menutup satu bab penting dalam sejarah Manchester City, tetapi juga membuka lembaran baru dalam perjalanan karier seorang bek yang pernah berada di puncak kejayaan sepak bola Inggris.***


