TEHERAN, IRAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara operasi “Project Freedom” di Selat Hormuz setelah mengklaim adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Washington dan Teheran. Langkah itu diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat memicu baku tembak hanya beberapa hari setelah operasi diluncurkan.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyebut keputusan tersebut diambil setelah adanya dorongan dari Pakistan dan sejumlah negara lain, serta perkembangan terbaru dalam pembicaraan dengan pihak Iran.
“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer yang luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan akhir dengan perwakilan Iran, kita telah sepakat bersama,” kata Trump , Rabu (6/5/2026).
Trump menegaskan bahwa penghentian itu hanya bersifat sementara. Menurutnya, blokade tetap diberlakukan penuh sambil menunggu proses diplomasi mencapai tahap final.
“Sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom atau pergerakan kapal melalui Selat Hormuz akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah kesepakatan dapat diselesaikan dan ditandatangani,” ujarnya.
Operasi Baru AS di Selat Hormuz
Project Freedom sendiri baru diumumkan Trump pada Minggu waktu setempat dan resmi mulai dijalankan sehari kemudian, Senin (4/5). Operasi tersebut diklaim bertujuan menjamin keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu titik paling strategis bagi distribusi energi global.
Namun, belum genap sepekan berjalan, situasi di kawasan langsung memanas setelah militer Amerika Serikat dan Iran dilaporkan saling melancarkan serangan dan tuduhan. Insiden itu memunculkan keraguan terhadap efektivitas gencatan senjata yang sebelumnya disebut masih berlaku.
Meski demikian, pemerintahan Trump tetap menegaskan bahwa upaya deeskalasi belum gagal. Sejumlah pejabat tinggi Gedung Putih bahkan terus mempromosikan operasi tersebut sebagai bagian dari strategi pengamanan kawasan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut operasi di Selat Hormuz sebagai langkah awal menuju pemulihan penuh aktivitas pelayaran internasional di kawasan itu.
“Ini adalah langkah pertama menuju pembukaan kembali sepenuhnya jalur air penting tersebut,” kata Rubio kepada wartawan di Gedung Putih.
Pernyataan senada juga disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Ia menegaskan bahwa Project Freedom tidak berkaitan langsung dengan operasi tempur Amerika Serikat di Timur Tengah.
“Project Freedom bersifat defensif, terfokus dalam cakupan dan bersifat sementara, dengan satu misi: melindungi pelayaran komersial yang tidak bersalah dari agresi Iran,” ujar Hegseth.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas
Keputusan penghentian sementara operasi itu dinilai menjadi sinyal bahwa Washington mulai membuka ruang diplomasi setelah eskalasi militer beberapa hari terakhir meningkatkan kekhawatiran dunia internasional.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital perdagangan minyak global. Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia sekaligus mengganggu rantai pasok internasional.
Pernyataan Trump mengenai kemungkinan tercapainya “kesepakatan lengkap dan akhir” dengan Iran juga memunculkan spekulasi baru terkait arah hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun berada dalam ketegangan tinggi.
Hingga kini belum ada rincian resmi mengenai isi kesepakatan yang dimaksud Trump maupun jadwal penandatanganannya. Pemerintah Iran juga belum memberikan pernyataan rinci terkait klaim tersebut.
Di sisi lain, penghentian sementara Project Freedom menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menjadi opsi utama di tengah ancaman konflik terbuka yang terus membayangi kawasan Timur Tengah.