MOJOKERTO – Kehadiran peternakan unta di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Banyak warga dibuat penasaran setelah video dan foto sejumlah unta yang dipelihara di kawasan pedesaan beredar luas di internet.
Pemandangan hewan khas Timur Tengah berada di tengah hamparan hijau persawahan Mojokerto tentu menjadi sesuatu yang tidak biasa bagi masyarakat Indonesia.
Peternakan tersebut diketahui berada di bawah pengelolaan sebuah farm yang mulai mengembangkan budidaya unta sebagai bagian dari peternakan modern sekaligus persiapan penyediaan hewan kurban.
Keberadaan unta di Mojokerto pun menarik perhatian publik karena selama ini hewan tersebut identik dengan gurun pasir dan negara-negara Arab.
Pemilik peternakan mengungkapkan bahwa ide beternak unta muncul dari keinginan menghadirkan alternatif hewan kurban yang unik namun tetap sesuai syariat Islam.
Selain itu, peternakan ini juga bertujuan menjadi sarana edukasi dan wisata bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan unta.
Adaptasi Unta di Iklim Tropis
Meski dikenal sebagai hewan gurun, ternyata unta mampu beradaptasi dengan cukup baik di iklim tropis seperti Indonesia.
Pengelola peternakan menjelaskan bahwa proses adaptasi dilakukan secara bertahap, mulai dari pengaturan pola makan hingga penyesuaian lingkungan kandang.
Pakan yang diberikan pun disesuaikan dengan kondisi lokal. Jika di habitat aslinya unta lebih banyak mengonsumsi tanaman gurun, di Mojokerto hewan tersebut diberi kombinasi rumput hijau, jerami, serta tambahan nutrisi tertentu agar kesehatannya tetap terjaga.
Perawatan kesehatan juga menjadi perhatian utama. Tim peternakan rutin melakukan pemeriksaan kondisi tubuh unta untuk memastikan hewan tetap sehat dan tidak mengalami stres akibat perubahan cuaca.
Sejauh ini, beberapa ekor unta yang dipelihara dilaporkan mampu tumbuh dengan baik dan aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Menjadi Alternatif Hewan Kurban
Dalam ajaran Islam, unta memang termasuk hewan yang diperbolehkan untuk kurban selain sapi, kambing, dan domba.
Namun di Indonesia, penggunaan unta sebagai hewan kurban masih tergolong langka karena keterbatasan populasi dan biaya yang relatif tinggi.
Keberadaan peternakan unta di Mojokerto membuka peluang baru bagi masyarakat yang ingin berkurban dengan pilihan berbeda.
Satu ekor unta bahkan dapat digunakan untuk kurban tujuh orang, sama seperti sapi.
Hal ini membuat sebagian masyarakat mulai tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang mekanisme dan biaya kurban unta.
Meski demikian, pengelola mengaku belum menargetkan penjualan dalam jumlah besar.
Fokus utama saat ini masih pada pengembangan peternakan dan edukasi kepada masyarakat tentang cara pemeliharaan unta di Indonesia.
Ramai Dibicarakan Warganet
Popularitas peternakan ini meningkat pesat setelah sejumlah konten tentang unta di Mojokerto viral di TikTok dan Instagram.
Banyak netizen mengaku terkejut melihat unta dipelihara di lingkungan pedesaan Jawa Timur.
Tidak sedikit pula warga yang datang langsung untuk melihat kondisi peternakan dari dekat.
Beberapa pengunjung bahkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berfoto bersama unta, sesuatu yang biasanya hanya bisa ditemui di kebun binatang atau tempat wisata tertentu.
Fenomena ini menunjukkan tingginya rasa penasaran masyarakat terhadap hal-hal unik di dunia peternakan.
Apalagi, selama ini Mojokerto lebih dikenal dengan sektor pertanian dan peternakan konvensional seperti sapi serta kambing.
Potensi Wisata Edukasi
Selain dikembangkan untuk kebutuhan kurban, peternakan unta ini juga dinilai memiliki potensi besar sebagai wisata edukasi.
Anak-anak hingga orang dewasa dapat belajar mengenai karakteristik unta, pola hidupnya, hingga manfaat ekonominya.
Konsep wisata edukasi peternakan memang belakangan semakin diminati masyarakat.
Banyak keluarga mencari tempat rekreasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengetahuan baru bagi anak-anak.
Kehadiran unta di Mojokerto menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan wisata peternakan biasa.
Pengelola berharap ke depan peternakan ini dapat berkembang menjadi destinasi edukasi berbasis peternakan modern.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mengenal unta sebagai hewan khas Timur Tengah, tetapi juga memahami potensi budidayanya di Indonesia.
Membuka Peluang Peternakan Baru
Fenomena peternakan unta di Mojokerto juga dinilai membuka wawasan baru di sektor peternakan nasional.
Selama ini, peternak di Indonesia umumnya fokus pada hewan ternak yang sudah lazim dikembangkan.
Kehadiran unta menunjukkan bahwa peluang usaha peternakan masih sangat luas jika dikelola dengan inovasi dan perencanaan yang matang.
Namun demikian, budidaya unta tentu memiliki tantangan tersendiri, mulai dari biaya perawatan, kebutuhan kandang, hingga proses adaptasi lingkungan.
Karena itu, pengelola menegaskan bahwa pemeliharaan unta tidak bisa dilakukan sembarangan dan memerlukan pengetahuan khusus.
Meski masih tergolong baru, peternakan unta di Mojokerto telah berhasil menarik perhatian masyarakat luas.
Tidak hanya menjadi viral di media sosial, keberadaan peternakan ini juga membuktikan bahwa inovasi di bidang peternakan mampu menghadirkan sesuatu yang unik sekaligus bernilai ekonomi.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang penasaran dan tertarik, bukan tidak mungkin Mojokerto nantinya akan dikenal sebagai salah satu daerah pengembangan peternakan unta di Indonesia. (FB)



