JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mulai mengakselerasi transformasi Jakarta International Stadium atau JIS menjadi stadion berkelas dunia. Langkah itu ditandai dengan penjajakan kerja sama antara pengelola JIS dan San Siro Stadium saat kunjungan delegasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ke Milan, Italia, Selasa (12/5).
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Pemprov DKI mencoba menyerap pengalaman panjang San Siro sebagai salah satu stadion paling ikonik di dunia yang mampu bertahan selama satu abad sekaligus berkembang menjadi pusat hiburan, wisata, dan ekonomi kreatif.
Dalam pertemuan itu, Rano bersama delegasi Pemprov DKI berdiskusi langsung dengan General Manager San Siro Stadium Fabrizio Caruso serta Business Development San Siro Stadium Michele Finucci. Sejumlah isu strategis dibahas mulai dari tata kelola stadion internasional, penyelenggaraan event skala global, pengembangan museum stadion, teknologi perawatan rumput, hingga strategi membangun kedekatan emosional dengan penggemar.
Rano menilai Jakarta perlu banyak belajar dari model pengelolaan San Siro yang mampu menghidupkan stadion sepanjang tahun melalui aktivitas nonpertandingan.
“San Siro adalah salah satu ikon sepak bola dunia yang sudah berusia 100 tahun sejak 1925 dan terus berkembang hingga memiliki kapasitas 75.000 penonton. Kita datang bukan sekadar berkunjung, tetapi belajar bagaimana sebuah stadion bisa hidup sebagai ruang sejarah, bisnis, hiburan, dan menjadi kebanggaan warga. JIS punya potensi besar untuk berkembang ke arah sana,” kata Rano dalam keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta, Kamis (14/5/2026).
JIS Tidak Hanya Jadi Venue Olahraga
Pemprov DKI menilai konsep stadion modern saat ini tidak lagi sekadar menjadi lokasi pertandingan sepak bola. Stadion dituntut mampu menghadirkan berbagai aktivitas yang menopang ekonomi kota, termasuk sektor pariwisata dan hiburan.
Karena itu, Rano meminta PT Jakarta Propertindo sebagai pengelola JIS untuk menindaklanjuti proses transfer pengetahuan dengan pihak San Siro.
Kerja sama yang dijajaki meliputi sistem pengelolaan stadion, manajemen event internasional, optimalisasi kegiatan nonolahraga, hingga pengembangan pengalaman pengunjung atau visitor experience.
Menurut Rano, pengembangan JIS menjadi penting dalam upaya memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global. Kehadiran stadion modern yang aktif sepanjang tahun dinilai dapat menjadi magnet baru bagi sport tourism di ibu kota.
“Stadion tidak lagi hanya menjadi venue olahraga. Ke depan, stadion harus mampu menjadi ruang ekonomi kreatif, pusat hiburan publik, dan bagian dari identitas kota,” ujarnya.
Kedatangan AC Milan Jadi Momentum Besar
Penjajakan kerja sama ini juga berkaitan dengan rencana kedatangan AC Milan ke Jakarta pada 8 Agustus 2026. Klub raksasa Italia itu dijadwalkan menghadapi Chelsea FC dalam laga pramusim di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Rano menilai kehadiran AC Milan menjadi indikator bahwa Jakarta mulai diperhitungkan sebagai pasar sepak bola internasional sekaligus destinasi event olahraga global.
“Kedatangan AC Milan ke Jakarta adalah sinyal penting. Dunia melihat Jakarta sebagai pasar, sebagai panggung, dan sebagai kota yang punya gairah besar terhadap sepak bola. Maka tugas kita adalah memastikan Jakarta siap bukan hanya sebagai tuan rumah pertandingan, tetapi juga sebagai kota yang mampu menghadirkan pengalaman kelas dunia,” tutur Rano.
Momentum tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat branding Jakarta sebagai kota penyelenggara event olahraga internasional. Selain mendatangkan wisatawan, pertandingan kelas dunia juga diyakini mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif, perhotelan, transportasi, hingga UMKM.
Belajar dari Museum dan Tur Stadion San Siro
Selama berada di Milan, delegasi DKI Jakarta turut meninjau museum dan area stadion San Siro. Mereka mempelajari bagaimana pengelola stadion membangun pengalaman pengunjung melalui pengemasan sejarah klub secara menarik dan interaktif.
San Siro diketahui menjadi rumah bagi dua klub besar Italia, yakni AC Milan dan Inter Milan. Pengelola stadion memanfaatkan sejarah panjang kedua klub sebagai daya tarik utama wisata stadion.
Delegasi DKI mendapat pemaparan mengenai pengelolaan museum, tur stadion, narasi sejarah klub, hingga strategi menjaga hubungan emosional antara stadion, klub, dan para suporter.
Business Development San Siro Stadium Michele Finucci menegaskan pihaknya terbuka untuk berbagi pengalaman dengan Jakarta terkait pengelolaan stadion modern.
“San Siro adalah stadion yang sangat bersejarah. Kami memiliki pengalaman panjang dalam mengelola pertandingan, tur stadion, museum, dan berbagai kegiatan yang melibatkan para penggemar. Kami senang dapat berbagi pengalaman dan berdiskusi dengan delegasi dari Jakarta mengenai bagaimana stadion dapat dikelola sebagai tempat pertandingan, destinasi wisata, sekaligus ruang interaksi publik,” ujar Michele.
JIS Diproyeksikan Perluas Jejaring Global
Rano menegaskan pengalaman San Siro menjadi referensi penting karena JIS sejak awal dirancang sebagai infrastruktur strategis ibu kota. Ia berharap penjajakan kerja sama tersebut menjadi langkah awal memperluas jejaring internasional JIS.
Tidak hanya dalam aspek manajemen stadion, kerja sama juga diharapkan membuka peluang kolaborasi di bidang penyelenggaraan event global, promosi wisata olahraga, hingga pengembangan teknologi pengelolaan stadion modern.
Dengan kapasitas besar dan fasilitas bertaraf internasional, JIS dinilai memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu ikon baru Jakarta di level global. Pemerintah Provinsi DKI pun berupaya memastikan stadion tersebut tidak hanya ramai saat pertandingan, tetapi mampu menjadi pusat aktivitas publik sepanjang tahun.
